"Ngak, ngak mungkin, Ric? Loe jangan sok tahu deh, Ric!" bantah Tika menyangkal apa kata Rico tentang Arwah Nena, yakin jika itu adalah arwah penasarn itu adalah Arwah Tante Nena.
"Tapi, tapi kenapa hantu itu terus mengejar kita berdua? Selama ini, kitakan berdua merasa ngak punya kesalahan sama siapapun! Apalagi sama Tante Nena saat hidupnya," tegas rada membantah Rico sedikit emosi berdiri berdiri belakangi Tika menahan amarahnya dengan kedua tangannya dikepal kemudian di pukul-pukul pada kepala.
"Arghhhh kesal-kesal gua! Kenapa jadi begini! Padahal gua sebentar lagi mau menikah dengan Heri!" sedih bercampur kesal Tika berapa kali pukuli kepalanya sendiri, Rico berbalik jongkok meraih tangan kedua tangan Tika tidak mengepal lagi menahan marahnya.
"Gua harap saat ini dan nanti tidak ada pikiran dan rasa dilemma saat loe akan menikah dan setelah menikah dengan Heri," Rico menasehati Tika sedih beranjak bangun disertai Rico juga beranjak bangun.
"Gua harus yakinkan hati dan perasaan gua agar pernikahan gua dan Heri tidak lagi menjadikan dilemma dalam pikiran gua, Ric," jelas Tika tersenyum yakin tatap wajah tampan Rico mulai tersenyum.
"Lebih baik sekarang kita kerumah Heri untuk bermalam di rumahnya," ajak Rico berjalan duluan diikuti Tika dari belakang.
Tiba-tiba Arwah Nena bergelantungan diatas dahan ranting pohon, kakinya melepit dua menggantung keatas dahan ranting pohon. Sementara wajahnya kebawah perhatikan langkah jalan Tika dan Rico yang berjalan menembus gelapnya malam.
Malam semakin larut, ada rasa keraguan dalam hati Tika saat sudah sampai dirumah Heri. Tika saat berhenti tidak mau melanjutkan berjalan, padahal mereka berdua sudah sampai dihalaman depan rumah Heri.
"Loe ngak perlu merasa ragu kayak gini dong Kak, sebentar lagi Heri akan jadi suami loe. Apa salahnya kita malam ini saja, kita bermalam dirumah Heri dulu, sampai besok pagi kita kembali," Rico yakinkan Tika merasa tidak enak.