Hidup Dengan Mayat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #23

Hari Bahagia

Panik Bima karena mayat Nena semakin rusak dan mengeluarkan bau tidak sedap. Bima berusaha meriasi wajah mayat Nena dengan bedak, tetapi kulit wajahnya semakin rusak mengelupas.

"Tidak, tidak Nena! Ini hari bahagia Heri. Hari ini Heri akan menikah! Aku mau kamu harus tetap terlihat cantik!" guman sedih Bima mendaratkan kepalanya pada dada mayat Nena semakin terlihat wajahnya rusak seram menghitam dan tidak bisa diriasi lagi.

Bima melirik meja rias, terdapat banyak botol farpum dan alat make'up tergeletak rapi diatas meja rias, cepat Bima beranjak bangun mendekati meja rias.

Bima sudah berdiri didepan cermin yang di hadapannya alat make'up dan botol farpum. Muncul Arwah Nena perlahan mendekati dengan rambut terurai berterbangan mengikuti langkahnya dan berhenti berdiri dibelakang Bima masih tidak sadar, bila Arwah Nena terlihat didalam cermin.

Tangan Bima mengambil salah satu botol farpum yang sedikit di semprotkan dengan tangan kanannya dan terendus wanginya.

"Srott ... Srott ..." jutaan buih wangi mendarat diseluruh tubuh mayat Nena.

"Wanginya akan menjadikan Nena seperti wangi bunga sepanjang waktu," puji Bima berbalik sudah tidak ada lagi Arwah Nena.

Lagi-lagi Bima semprotkan farpum keseluruh tubuh mayat Nena, sembari mengendus aroma wangi farpum.

"Tubuhmu semakin tercium aroma wangi bunga, Nena." puji lagi Bima merasakan ada yang berdiri dibelakang, Bima terhenti tidak lagi melanjutkan semprotkan farpum kemayat Nena. Bima cepat berbalik hanya sepi terdengar panggilan Heri dari luar memanggil dirinya.

"Yah, Ayah lekas keluar sudah ditunggu tamu dan Bapak Pengulu!" panggil Heri dari luar pintu.

Bima masih memakaikan bedak pada wajah mayat Nena, walau sebagian kulit wajahnya telah merusak, namun Bima seperti tidak peduli dengan keadaan mayat Nena yang telah semakin rusak dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Lihat selengkapnya