"Ngak lebih baik loe disini aja dulu, Ric. Loe bisa tidur dikamar belakang, sementara Mbok Mar masih pulang kampung," kata Heri melarang Rico agar tidak pulang dulu untuk sementara waktu temani Tika.
"Iya Ric. Loe disini aja dulu temani gua berapa hari aja," tambah Tika menimpali Heri mencoba merayu Rico hanya tersenyum perhatikan raut wajah penuh kebahagian Tika, yang setelah resmi menjadi istrinya Heri.
"Gua lebih baik pulang aja kerumah, nanti kapan waktu gua janji akan nginep disini," jawab Rico beranjak jalan tinggalkan halaman rumah, sesaat tangan Tika melambaikan pada Rico sudah naik motor pergi meninggalkan halaman rumah.
Sepi halamaan rumah, hanya masih terparkir mobil tua bmw merah tua yang kini juga manjadi miliknya Tika, telah resmi menjadi istrinya Heri.
Tika masih rada malu saat terduduk diatas ranjang, ketika Heri menutup pintu kamar. Heri tersenyum duduk disamping Tika semakin tersipu malu dan tahu apa yang akan dilakukan mereka berdua didalam kamar pada saat malam pertama. Karena mereka kini telah menjadi pasangan suami istri yang resmi menikah secara agama dan legal dengan tercatat negara.
Tangan kanan Heri mengelus wajah Tika perlahan berbaring merebahkan tubuhnya diatas ranjang pengantin yang masih terhiasi pernak-pernik bunga bertaburan dan ronce bunga melati tergantung membentuk renda disetiap sudut ranjang.
Semakin membuat suasana semakin romantis saat Heri perlahan mengecup kenig dan membelai wajah cantiknya Tika. Sontak lampu kamar padam, sudahlah hanya Tika dan Heri yang tahu saja, karena malam itu adalah malam pertama buat mereka berdua.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka sendiri, lewat Arwah Nena berhenti depan pintu melihat kedalam kamar hanya terlihat samar gelap.
Bima semakin panik ketika sedang menyisiri rambut mayat Nena, rambutnya semakin banyak yang rontok tersangkut pada sisir.
Bima kesal melempar sisir kelantai sesaat melirik pada mayat Nena terduduk didepan cermin meja rias. Kesal Bima membuang semua botol farpum dan peralatan makeup kelantai.