"Ric, Rico cepat jawab!" panik Tika semakin cemas saat tidak dijawab oleh Rico. Ponsel di masukan kedalam saku celana jeansnya.
Tirai kelambu ranjang terbuka, sudah terlihat terduduk mayat Nena masih tertutupi selimut putih. Semakin mencekam dan ketakutan Tika berusaha buka jendela masih sulit dibuka.
"Gua, harus cepat keluar dari sini dan jika Ayahnya Heri tahu gua ada disini, habis gua di marahinya!" kesal menggerutu ketakutan Tika paksa buka jendela lagi tetap tidak bisa.
Perlahan selimut putih mulai terbuka perlihatkan wajah mayat Nena, semakin ketakutan Tika menepi minggir kesamping lemari. Selimut putih semakin terbuka, semakin jelas Tika melihat mayat Nena dengan wajah seramnya.
Tika cepat menghindar malahan terjatuh kepalanya terbentur lemari dibarengi terjatuh kain kafan dari atas lemari menutupi wajah Tika pingsan. Mayat Nena kembali terbaring dan tertutupi lagi dengan selimut putih.
Rico terjaga bangun melirik kearah jendela sudah siang. Tangannya meraih ponsel ada panggilan tidak terjawab dari Tika terlihat dari layar ponsel.
"Kenapa perasan gua ngak enak ya? Pasti terjadi sesuatu pada Tika. Tapi'kan ngak mungkin gua harus tinggal bersama dengan Tika yang saat ini sudah punya keluarga sendiri," guman Rico masih terbaring diatas ranjang melirik ponsel tergeletak disamping bantal.
"Gua, yakin ada sesuatu yang ngak beres dengan Arwah Tante Nena? Pasti ada sebabnya kenapa Arwah Tante Nena terus datang nakut-nakutin gua terus. Gua harus cepat kasih tahu Heri," Rico cepat turun dari ranjang dan keluar dari kamar yang rencananya akan kekantor Heri untuk memberitahukan kejadian yang dialami Rico.
Tampak hari semakin siang, sinar matahari menyorot dalam kamar dan jendela sudah terbuka.
"Kepala gua pusing bangat. Iiih! Apaan ini!" teriak ketakutan Tika melempar kain kafan tidak jauh darinya.
"Itukan kain kafan?" kata Tika rada ketakutan mendekati kain kafan tergeletak dilantai sembari melirik ranjang sudah tertutup tirai kelambunya.