"Percuma saja gua ngomongin sama Heri, seakan Heri juga menutupi dan seperti merahasiakan sesuatu dari gua," tambah Tika akan menjelaskan kegundahanya pada Heri tetap tidak akan percaya.
Tika akan meraih gelas yang tergeletak dimeja makan dengan tangan kanannya, pintu kamar Mbok Mar terbuka sedikit dengan suara ringkih seram.
Tangan kanan Tika tidak jadi mengambil gelas, dengan kedua matanya melirik kearah pintu kamar Mbok Mar yang sudah tertutup lagi.
Tika mulai merasakan tidak enak, benak dan pikirannya mulai dirasuki hawa ketakutan, perlahan Tika beranjak bangun dari duduk.
Tika bermaksud ingin kembali kekamar segera berharap bisa melewati depan kamar Mbok Mar, saat Tika akan melewati pintu kamar Mbok Mar.
Pintu malahan terbuka sendiri, terkejut Tika tidak jadi melanjutkan jalan karena melihat ada seseorang yang duduk diatas dipan dalam kamar terlihat samar karena gelap.
Tika menoleh kearah lorong jalan kamar, tetapi hatinya ingin cepat masuk kedalam kamar, namun perasaan keinginan tahuannya semakin mengulik siapa orang yang sedang duduk diatas dipan dalam kamar.
"Mbok Mar, apakah itu Mbok Mar?" Tika perlahan mendekati kamar. Tidak ada jawaban atau suara apapun dari wanita tua yang masih terduduk diam diatas dipan.
Semakin penasaran bercampur cemas tersirat dari raut wajah Tika semakin masuk beranikan diri kedalam kamar.
"Mbok Mar sudah kembali dari pulang kampung?" tanya lagi Tika sembari tangannya menekan saklar lampu. Kamar terang dengan nyalah lampu, terkejut Tika saat melihat wajah seram Mbok Mar hanya terdiam membisu pucat dengan leher mengangah penuh darah segar.