Hidup Dengan Mayat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #32

Ketidak Percayaan Bima

Heri terlihat sibuk dengan banyaknya pekerjaan, lihat saja jari jemari tangannya terus mengetik pada keyboard dengan layar menampilkan exel office laporan keuangan yang harus segera di selesaikannya dan terlihat berapa tumpukan dokumen tergeletak dimeja kerjanya.

Terdiam jari jemari Heri, sepertinya wajah dan pikirannya mulai kembali teringat Tika. Rasa amarahnya ditahan dengan kedua tangannya tergenggam menahan marah dengan akan memukul meja tapi tidak jadi.

Kesal Heri mendorong tumpukan dokumen kelantai, yang terlihat dokumen terjatuh berceceran dilantai.

"Uhhh! Kenapa?! Kenapa ini harus terjadi sama hidup dan pernikahan gua!" teriak kesal Heri beranjak bangun menendang dokumen semakin berceceran dilantai.

"Apa karena gua egois? Ngak ngasih kesempatan Tika untuk menjelaskannya. Tapi jelas-jelas Tika sangat dekat dengan Ayah gua. Gua benaran lihat jelas, bila Tika memang sengaja sepertinya mengusik rasa kecemburuan gua!" benar cemburu Heri terduduk disopa perhatikan ceceran dokumen dimeja.

"Kring ... Kring ..." terdengar suara dering ponsel bergetar diatas meja, terlihat dilayar ponsel Tika memanggilnya, tetapi Heri tidak menjawabnya.

"Brak ... Bruk ...!" suara jendela terbuka tertutup sendiri.

Jendela terbuka tertutup sendiri, cepat Heri menutup jendela yang terlambat karena anginnya sangat kencang sudah masuk kedalam dan menerbangkan semua dokumen.

Semua dokumen berterbangan didalam ruangan, panik dan cepat tangan Heri mengambil dokumen satu-persatu yang kemudiannya pegangnya.

Tetapi karena angin semakin kencang berhembus kembali menerbangkan dokumen, semakin panik dan bingung Heri berusaha mengambil dokumen.

Heri bingung saat angin berhenti dan melihat tumpukan dokumen disudut ruangan kerjanya, perlahan Heri mendekati dokumen yang seketika terbang berputar semua dokumen dan buyar menerjang kearah Heri mundur ketakutan, sampai kakinya terbentur siku meja.

Menahan sakit Heri berusaha menghindar tetapi tumpukan dokumen terus mengejar dan menerjang Heri terpojok disudut pojok ruangan kerjanya.

Lihat selengkapnya