Malam semakin cepat datang, hanya gelap terlihat diluar rumah. Hati riau cemas, semakin membuat perasaan Tika gelisah bercampur ketakutan.
Tika sebentar duduk dan beranjak bangun melongok kearah luar rumah, Tika berdiri didepan pintu menanti kepulangan Heri yang belum ada tanda kapan akan pulang.
Sudah berapa kali Tika menghubungi ponsel Heri namun tidak aktip. Semakin mencekam suasana karena Tika malam itu hanya seorang diri, sedangkan Bima belum pulang juga dari toko.
Semakin mencekam ketakutan Tika saat terdengar suara musik dansa dari dalam kamar Bima. Kesal marah hanya bisa ditahan Tika dengan menutup kedua kupingnya saja dengan kedua tangannya. Namun semakin keras suara musik dansa terdengar dari dalam kamar Bima.
"Brag ... Brug ..." suara pintu terbuka tertutup sendiri.
Bertambah ketakutan Tika langsung duduk disopa. Tika berusaha mencoba kembali menghubungi ponsel Heri yang masih tidak aktip.
"Akhhh! Lama-lama gua bisa gila kalau begini terus! Akhhh!" teriak Tika kesal seakan sangat marah dirinya dengan keadaan yang sedang dihadapinya.
Lampu seketika padam, semakin ketakutan Tika beranjak bangun akan masuk kedalam kamar, tetapi pintu kamar malahan sulit dibuka.
"Ini kenapa lagi pintu ngak bisa dibuka! Akhhh!" semakin kesal meradang Tika hanya terduduk sedih didepan pintu kamar.
Tapi tidak lampu terang kembali, tetapi malahan membuat Tika terkejut beranjak bangun ingin masuk kedalam kamar, tetapi pintu sulit dibuka lagi saat sudah duduk Arwah Nena dan Mbok Mar disopa melirik pada Tika berusaha buka pintu tetap sulit dibuka.
Tapi malahn pintu kamar Bima terbuka, cepat Tika masuk kedalam kamar dan tanpa sadar karena ketakutan Tika menutup pintu.
Tika terdiam baru sadar, bila dirinya sudah berada lagi didalam kamar Bima. Tika panik saat mendengar suara musik dansa terdengar lagi, sontak marah Tika mendorong jatuh pemutar piring hitam kelantai.
"Brug" suara pemutar piring hitam terjatuh dilantai.
Namun masih saja terdengar saja suara musik dansa. "Berisik! Berisik! Mati ... Mati aja loe ... Piring hitam sialan!l loe ...!" semakin meradang marah Tika mengambil kursi yang diarahkan pada pemutar piringan hitam mengelurakan suara musik dansa pelan.
Kesal Tika lagi-lagi di arahkan lagi kursi pada pemutar piring hitam sehinggah rusak total hancur dan tidak lagi mengeluarkan suara musik dansa lagi.