Hidup Dengan Mayat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #35

Maaf'kan

"Ibu telah tiada Ibu telah meninggal dunia, Yah. Tetapi kenapa Ayah tega sekali diam-diam sembunyikan mayat Ibu dan apakah Ayah tidak merasa kasihan bila saat iini Arwah Ibu jadi penasaran karena Ayah menyimpan mayatnya?" tuding Heri beranjak bangun mendekati Bima malahan terduduk lemas seakan ingin bercerita pada Heri. 

"Maafkan Ayah, Her. Sebelumnya kenapa Ayah sampai diam-diam mencuri mayat Ibu kamu," tutur Bima perlahan seraya bibirnya berat untuk bercerita saat Heri mulai tenang duduk berhadapan disopa dengan Bima.

Flash Back

"Gaok ... Gaok ..." suara burung gagak hitam terbang berputar memutari areal pemakaman dan berhenti bertengger pada dahan disalah satu pohon besar tidak jauh dari areal pemakaman.

Pohon rindang tua dengan dedaunan yang rimbun bergerak diterpa angin semilir, kabut malam menyibak dalam gelap malam hanya terlihat terbaring berjejer kuburan berpapan nisan dan sebagian bernisan batu.

"Gaok ... Gaok ..." terdengar lagi suara burung gagak hitam jelas terlihat sedang bertengger diatas dahan pohon seperti sedang memperhatikan sesuatu yang mencurigakan dari dalam salah satu kuburan. 

Serpihan tanah merah basah terangkat terlempar dari lobang kuburan yang terlihat setengahnya, sementara diatas kuburan sudah banyak gundukan tanah merah basah, menjadikan sekitar kuburan terlihat berantakan.

Peluh jatuh dari kening dan pipi Bima yang sedang berusaha menggali kuburan Nena, yang tadi siang baru saja di kuburkannya.

Berapa kali tangan Bima menyeka peluh pada wajahnya dan meninggalkan serpihan kotoran tanah pada wajahnya hampir sebagian wajah Bima kotor dengan tanah.

Begitu juga dengan kaos putih dan celana panjang berwarna hitam semakin tidak terlihat lagi warnanya karena sudah tercampur dengan tanah merah basah berwarna coklat tua.

Lihat selengkapnya