Hidup Dengan Mayat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #39

Tidak Lagi Penasaran

"Brak ... Brug ..." suara tertutup terbuka pintu dan jendela sendiri, suaranya semakin mencekam.

Suara angin kencang menerpa menggerakan tirai kelambu dan ranjang, hanya terduduk sedih Bima diatas ranjang seraya tidak pedulikan dengan apa yang terjadi di kamarnya saat itu.

Gelap semakin berkabut hening dan sunyi, tidak membuat Bima bergeming ingin keluar dari dalam kamarnya yang seakan nyawanya sedang terancam.

Bima beranjak bangun perhatikan pemutat piringan hitam yang rusak tidak berbentuk, alat make'up dan botol farpum yang berceceran berantakan dilanti dan pakaian yang tergeletak disekitar lantai kamar hanya seraya di diamkan Bima semakin mendekati cermin yang hancur retaknya semakin melebar.

"Apa aku salah dengan apa yang aku lakukan terhadap mayat Nena.?Betapa aku sayang mencintainya dan tidak sejengkalpun aku ingin terpisah. Walau saat ini Nena hanya seonggok mayat yang kian hari, kian menjadi rusak dan membusuk. Tapi aku tetap mau hidup dengannya. Seakan hidup imi semakin tidak mau kehilangan dengan mayat Nena," Bima berguman sendiri berdiri didepan cermin.

Berdiri Arwah Nena dibelakang Bima sesaat tersenyum perhatikan dari cermin yang retak melebar itu.

"Kamu masih tetap cantik Nena," ujar Bima perlahan berbalik, sontak kedua tangan Arwah Nena di arahkan pada leher Bima cepat menghindar.

"Tidak, tidak Nena! Ini, ini balasan dari kamu, yang selama ini betapa besar aku mencintai kamu! Aku tidak peduli, walau kamu hanya mayat, tetapi aku masih mau hidup penuh cinta dengan kamu! Tapi, tapi saat ini kamu datang malahan ingin membunuh aku!" bentak penuh amarah Bima bercampur sedih saat Arwah Nena hanya berdiri diam saja dihadapan Bima.

"Aku, aku juga tidak tahu saat ini dimana mayat kamu berada? Aku hanya mau hidup dengan mayatmu saja, Nen. Serasa bagian jiwa aku ini telah hilang akan hilangnya mayat kamu, Nena. Aku berharap kamu mengerti dengan kasih sayang ketulusan aku ini, yang memang terdengar aneh. Dimana seorang suami yang sangat mencintainya istrinya yang telah tiada, sudah diam-diam menyimpan mayat istrinya hanya untuk hidup bersamanya," semakin nyata betapa cintanya Bima pada Nena, dengan ungkapan perasaan hatinya dihadapan Arwah Nena. 

"Lekas kuburkan mayat Ibu segera, Ayah!" bentak Heri sudah masuk kedalam kamar bersama Tika dan Rico menarik mundur Tika saat Arwah Nena melirik pada Tika.

"Sampai kapanpun Ayah tidak akan pernah menguburkan mayat Ibu kamu, Her!" balik bentak tegas Bima akan mendekati Heri.

"Akhhhhhh ...!" terdengar teriakan Arwah Nena mulutnya terbuka lebar seraya sangat marah sekali. Rico dan Tika tutup kedua kupingnya dengan kedua tangan mereka.

Seketika cermin retak semakin melebar dan pecah, serpihan kacanya mengenai Bima saat akan mendekati Heri.

Lihat selengkapnya