Seandainya ibuku tidak terlalu baik, mungkin saja aku bisa lebih sadar diri dan tidak jadi beban untuknya. Kalau saja bapakku tidak buru-buru pergi (mungkin lebih tepatnya berpulang), aku jadi punya figur untuk belajar cara bekerja keras sampai mampus.
Di luar sejuta penyesalan itu, ya begitulah realitanya, dua tahun bekerja sebagai budak kantoran dengan upah minimal yang bahkan kurang untuk menyewa liang kubur, apalagi rumah. Hampir berkepala tiga, tapi aku menumpang pada Ibu.
Namun, hari ini firasatku lain.
Saat tengah memarkirkan motorku yang ban depannya sudah botak serupa kepala bayi baru lahir, sampai-sampai harus amat pelan aku mengendarainya, telingaku menangkap keriuhan. Teriakan histeris terdengar dari arah gerobak yang begitu mepet dengan gerbang kantorku. Teramati sekumpulan orang berseragam taktikal lengkap, pasukan gegana kalau tidak salah, tampak berkerumun. Langkahku pasti, meski sedikit gemetar.
“Minggir! Pers mau lewat! Jangan halangi kebebasan pers, Bu!” seruku sembari menyikut ibu-ibu berbadan gempal yang sibuk merekam dengan kamera ponsel buramnya. Aku mengacungkan lanyard Nusawarta yang sudah apek dan brudul, seolah itu lencana FBI.
Para polisi menatapku malas, tapi persetanlah. Instingku mencium bau darah. Bau ledakan. Potongan tubuh. Ini kesempatanku. Berita ini akan meledakkan namaku, melampaui si ular centil, Lusi Utami. Ah, mengingat nama itu saja membuatku mual. Hanya karena hoki meliput pembunuhan politikus korup, dia langsung jadi Jurnalis Terbaik, dapat bonus, dan dilamar kepala polisi. Anjing! Persetan dengan Lusi dan keberuntungannya. Giliranku tiba.
Namun, sesampainya di depan kerumunan, realitas menamparku dengan telak.
Tidak ada asap, tidak ada darah. Yang ada hanya seorang bapak tua berpeci miring, duduk selonjoran di aspal sambil sesenggukan. Di sampingnya, sebuah gerobak hijau ngejreng bertuliskan huruf merah darah: "CILOK BOMM: PEDASNYA MELEDAK DI MULUT".
Otakku berputar cepat. Pasti bomnya disembunyikan di dalam dandang cilok. Modus baru.
“Pak! Pak!” Aku langsung berjongkok, menyodorkan ponsel. “Saya Januar dari Nusawarta. Ceritakan, Pak. Ada ancaman teror? Ada yang melempar bahan peledak?”
Si Bapak menatapku bingung. Matanya bengkak. Ingus kental meleleh melewati kumis putihnya, nyaris menyentuh bibir. Pemandangan yang memicu jijik, tapi kutahan demi berita.