Hikayat Pesta Babi

Bintang Harly Putra
Chapter #5

BAB 3 : SANG DOKTER HEWAN

Semua perihal itu membuatku keranjingan dan tak bisa tidur semalaman karena memikirkan berita macam apalagi yang harus kutulis. Aku berceloteh sendirian di dalam kamar tanpa sadar bahwa aku tidak tinggal sendirian di rumah. Ibu tiba-tiba saja masuk dan mencoba bersimpati padaku.

"Pergilah cari angin, Janu. Ke Sumatera atau ke mana saja. Siapa tahu kau dapat berita di sana."

Kata-kata Ibu terasa menuntunku. Dengan sisa uang operasional kantor yang sekarat, aku terbang ke Padang, lalu disambung tiga jam perjalanan darat via travel yang sopirnya menyetir seolah punya sembilan nyawa.

Akhirnya, aku terdampar di Bukittinggi.

Pencarian akan penginapan murah berujung pada sebuah rumah tua di gang sempit. Papan kayu kusam tergantung miring di depannya: Jalan Palambahan No. 30, Losmen Haji Itang. Untungnya tempat ini relatif murah sehingga aku tidak perlu membuang uang terlalu banyak hanya untuk tempat menginap. Namun yang sedikit tidak kusuka ditempat ini, mau tidak mau aku harus menginap sekamar dengan orang asing. Maklumlah aku tentu tidak bisa berharap banyak pada tempat yang relatif murah ini. Setidaknya, semoga saja teman kamarku nanti adalah orang yang menyenangkan dan bisa diajak berkompromi.

Aku mendapati kamar paling dekat dengan pintu rumah. Saat aku masuk, pemandangan gila langsung menyambutku. Seorang pria kurus tinggi berdiri membelakangiku. Tangan kirinya memeluk toples kaca berisi sesuatu yang tampak seperti jamur kering, sementara tangan kanannya menempelkan stetoskop ke dinding yang lembap dan berlumut. Dia mengangguk-angguk, seolah sedang mendiagnosis penyakit tembok itu.

Kuedarkan pandangan. Dinding kamar penuh ditempeli poster anatomi hewan, kuda yang dikuliti, penampang usus sapi, hingga kerangka unggas. Rasanya seperti masuk ke laboratorium dokter alih-alih kamar losmen.

Aku berniat mundur pelan-pelan sebelum dia sadar, tapi terlambat.

"Sepatumu bagus. Jakarta? Bandung? Atau Surabaya?" suaranya berat, muncul tanpa dia menoleh.

Aku terlonjak. Reflek tanganku mengusap telinga yang masih berdengung akibat perubahan tekanan udara pesawat.

"Maaf?"

Dia berbalik. Wajahnya tirus, matanya sayu namun sorotnya liar dan tajam. Mulutnya sibuk mengunyah jamur kering dari toplesnya.

"Oh, Jakarta," simpulnya santai, seolah baru membaca isi jidatku. "Kau melewati hari-hari yang berat, kenapa tidak ceritakan saja?"

"Tunggu dulu. Kita baru bertemu sepuluh detik. Kau dukun?"

Pria itu tersenyum miring. "Deduksi sederhana. Sneakers edisi terbatas 2019 yang kau pakai itu belum masuk distribusi pasar Sumatera. Itu mempersempit asalmu ke kota besar di Jawa. Lalu, intonasi 'Maaf'-mu tadi datar dan tegas, tanpa cengkok mengalun khas Bandung atau Surabaya."

Dia menunjuk telingaku dengan ujung stetoskop.

"Lalu soal 'hari berat'. Orang yang telinganya sakit karena barotrauma pesawat biasanya memijat lembut. Tapi kau? Kau mengusapnya kasar, seolah ingin merobek daun telingamu sendiri. Itu gestur frustasi. Kau sedang marah pada dunia."

Aku tertegun. Orang ini antara genius atau pengkhayal kelas kakap yang kebanyakan membaca Sherlock Holmes.

"Oke, Mr. Holmes," ujarku, setengah menyindir. "Aku Januar Hatta. Wartawan kriminal yang memang sedang sial."

"Januar..." gumamnya. Kepercayaan dirinya yang tadi meluap mendadak surut. Dia tiba-tiba terlihat kikuk, memeluk toplesnya erat-erat seperti anak kecil. "Aku... Saidi Serdula Sande. Panggil saja Sande."

Saatku tanyakan pekerjaan atau kesibukannya, dia hanya menjawab bahwa saat ini dia masih seorang pelajar hukum yang makin frustasi dengan tidak kunjung lulusnya ia. Aku sedikit kaget bahwa ternyata masih ada mahasiswa untuk orang seumuran dia, dan ternyata masih ada orang yang jauh lebih kekanak-kanakan ketimbang aku. Semua percakapan kami ini kemudian ditutup oleh keinginanku untuk segera mandi dan beristirahat setelah perjalanan panjang hari ini.

****

Sekembalinya dari mandi, aku tidak melihat Sande ada di kamar, kemungkinan besar ia sedang pergi entah kemana sore ini.

Tok. tok.

Seseorang mengetuk pintu kamarku dengan lembut. Kusegerakan berpakaian, membukakan pintu, dan dengan santun menyapa seseorang yang ada tepat di depan pintuku, rupanya seorang wanita. Ia menanyakan kemana perginya rekan kamarku. Aku segera menjelaskan ketidaktahuanku tentang hal itu dan memberikan kemungkinan bahwa rekanku itu akan segera kembali. Karena hari yang semakin menggelap, wanita itu memilih untuk menitipkanku sebuah surat yang ia mohon untuk diberikan kepada Sande.

"Akan segera, segera kusampaikan padanya," jawabku

Wanita itu bergegas pergi dan nampaknya menaiki mobil berwarna kehitaman.

Biar kujelaskan sedikit tentang perawakan wanita ini, dia terlihat masih seumuran denganku, rupanya cukup cantik, rambutnya lurus panjang dengan pakaian tertutup yang rapi, cara bicaranya agak keras, membuatku sedikit kaget saat pertama mendengar ucapannya. Walau begitu, terlihat dia adalah wanita yang cukup terpelajar serta terlihat berkasta tinggi.

Karena hari yang makin gelap, kuputuskan untuk menutup pintu rapat-rapat. sebelum itu terdengar seorang penjual sate samar-samar merayu calon pembelinya. Kubeli dua bungkus, untukku dan untuk rekan kamarku. Ya untuk salam perkenalan. Lalu memilih untuk kembali ke kamar.

Aku baru saja menelan tusuk pertama, hingga tiba-tiba pintu terbanting.

Sande masuk dengan napas memburu. Kemeja putih lusuhnya penuh bercak darah segar. Bau anyir langsung menampar hidungku, mengalahkan aroma bumbu sate. Jujur saja, aku berniat bertanya-tanya tentang apa yang baru saja ia lakukan. Keinginanku untuk bertanya langsung dipatahkan olehnya yang tiba-tiba saja lebih dahulu mengatakan hal random padaku.

Lihat selengkapnya