HILANG

lulu larasati
Chapter #1

Bab 1

‘’kamu itu kan sudah selesai sekolahmu, mbok ya cari kerja ! Bantu ibumu menyekolahkan adikmu sama bayar hutang-hutangnya dia! Memang kamu nggak malu apa punya orang tua banyak hutangnya kaya begitu, setiap hari jadi omongan tetangga’’

Miranti, gadis berkacamata itu tercekat mendengar perkataan dari bik Yanti yang baru saja datang kerumahnya tiba tiba melontarkan kata-kata yang membuat hatinya seperti tertusuk sebuah pisau. Miranti yang sebelumnya sedang menyapu lantai rumahnya pun sontak menghentikan kegiatanya itu dan mematung kaget, ia menggenggam erat sapu di tangannya, ingin sekali ia menghantamkan sapu itu kepada bi Yanti yang masih saja mengoceh di depan matanya, bukan tanpa alasan kenapa Miranti sampai sekesal itu, karena selama beberapa bulan ini Miranti sudah berusaha untuk mengirim lamaran pekerjaan di beberapa pabrik yang berada tidak jauh dari sekitar rumahnya.

Yah walaupun terletak di sebuah kota kecil tetapi daerah tempat Miranti tinggal merupakan sebuah kompleks industri yang berdiri banyak pabrik-pabrik seperti pabrik panci dan pabrik pembuatan boneka, seharusnya tidak sulit bagi warga sekitar untuk dapat bekerja di salah satu pabrik yang ada di daerah itu, tapi malang nasib Miranti karena setelah 6 bulan ia berusaha untuk melamar pekerjaan di pabrik-pabrik itu, sampai sekarang belum ada panggilan.

‘’Ranti lagi tunggu panggilan bik,’’ jawab Miranti yang masih berusaha menahan amarahnya di depan bik Yanti.

‘’halah kamu dari dulu tunggu panggilan tunggu panggilan terus! Kalau kamu mau nurut sama bibik dari 6 bulan yang lalu, pasti kamu sekarang sudah menikmati hasil kerja kamu, ngga usah gengsi, kerja jadi ART juga halal koq!’’

‘’bik, bukanya Ranti gengsi, tapi ibu kan dari dulu sudah berusaha keras untuk menyekolahkan Ranti sampai lulus SMK, Ranti kepingin ilmu yang sudah Ranti dapat itu bisa digunakan sebaik mungkin’’ sanggah Miranti.

‘’halah! Kalo mau dapet duit itu ngga usah pilih-pilih kerjaan, orang yang sarjana saja banyak yang nganggur koq! Ngga usah sok deh kamu! Yang penting itu duit!’’ 

Miranti yang sudah tidak tahan dengan ocehan bik Yanti lalu membanting sapu yang ia pegang ke lantai dan bergegas pergi keluar dari rumahnya, ia mengayuh sepedanya pergi meninggalkan rumah dan bik Yanti yang masih saja mengoceh.

Miranti mengayuh sepedanya dengan keadaan hati yang sangat dongkol, ia tidak habis pikir bagaimana ibunya yang sangat lemah lembut dan baik hati mempunyai adik yang setiap bicara selalu saja menggunakan otot dan ketus. Dari kecil ia memang sudah tidak cocok dengan bibiknya itu karena Miranti merasa segala hal yang ia lakukan selalu salah di mata bibiknya dan selalu mendapat hujatan. 

Miranti mengayuh sepedanya sejauh 1km menuju rumah sahabatnya Nira, mereka sudah bersahabat sejak kelas 1 SMP, bahkan Miranti sudah menganggap ibunya Nira seperti ibunya sendiri, karena hampir setiap hari Miranti menyempatkan diri untuk main atau hanya sekedar mampir ke rumah Nira, bahkan para tetangga dan saudara Nira sebagian besar sudah mengenal Miranti. Sering kali mereka dikira anak kembar atau kakak beradik dikarenakan wajah yang memang mirip di tambah lagi postur tubuh dan potongan rambut mereka sama, lurus panjang se dada, hanya saja Miranti lebih tinggi beberapa senti dibanding Nira.

Miranti memarkirkan sepedanya di depan rumah Nira dan berjalan menuju pintu rumah itu lalu membukanya sembari memberi salam.

‘’assalamualaikum.. Niraaa’’ panggil Miranti.

Tapi yang keluar dari dalam rumah itu bukanya Nira melainkan bu Wanti, ibunya Nira.

‘’waalaikumsalam, loh Ran, Nira sudah berangkat kursus’’ 

‘’owalah,, yaudah nanti sore saja aku kesini lagi mak’’

‘’eh ini mamak tadi masak sayur buncis, sarapan sekalian ya’’

Belum sempat Miranti menolak ajakan Bu Wanti, tapi ia sudah di rangkul dan dibawa menuju ke dapur, lalu di dudukan di kursi kayu yang menghadap sebuah meja makan kayu sederhana yang berbentuk kotak dibalut dengan sebuah taplak meja berwarna hijau bermotif kotak putih. Miranti memandangi makanan di depannya, sebenarnya ia lapar dan ingin segera makan karena ia tadi belum sempat memasak di rumah.

‘’kenapa cuma diliatin, ambil piring loh,’’

Miranti pun mengambil piring dan mulai menyendok nasi dan sayur, lalu bu Wanti mengeluarkan sebuah mangkok dari lemari kayu yang berada di sudut dapur. 

‘’ini ada oseng cumi, tapi Cuma sedikit jadi mak taroh di dalem lemari biar ngga ludes di makan si Dandi’’

Miranti tertawa renyah mendengar ucapan bu Wanti, ia tahu betul bahwa Dandi adik Nira itu memang mempunyai porsi makan yang cukup banyak dan selalu menghabiskan makanan apapun yang ada di meja makan, tidak memandang makanan itu milik siapa, menurutnya semua yang ada di meja makan di dalam rumahnya itu halal untuk dimakan.

Saat Miranti masih terkekeh tiba-tiba keluar dari dalam kamar laki-laki berbadan tinggi gempal yang sepertinya baru saja bangun dari tidurnya.

‘’eh Dandi jadi kebangun ya gara-gara denger aku ketawa’’ tanya Miranti meledek.

Sembari menguap Dandi berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan ledekan Miranti.

‘’mak, Nira pulangnya jam 4 ya’’ tanya Miranti sembari menyendokan nasi ke dalam mulutnya.

‘’iya biasanya si jam 4, tapi kayaknya hari ini bakalan lebih sore deh, soalnya katanya bakalan ada sosialisasi dari PT apa begitu, yang dari Jakarta’’

‘’owh... Nira mau kerja di Jakarta mak?’’ 

‘’iya kalo ada lowongan si kepenginya begitu Ran, disana kan gajinya gede’’

‘’owh iya syukurlah mak’’

Sebenarnya Miranti pun ingin sekali merantau ke Jakarta dan mendapatkan pekerjaan disana, tapi apa daya, dulu pada saat ada pendaftaran kursus komputer gratis itu Miranti tidak bisa ikut karena ia tidak memiliki kartu jaminan sosial seperti yang Nira punya, dan kartu itu adalah syarat utama untuk bisa mengikuti kursus komputer gratis di sebuah LPK di daerahnya. Sebenarnya pada saat belajar di SMP ataupun SMK Miranti sudah cukup mahir menggunakan komputer, tetapi yang ia butuhkan adalah lisensi atau sertipikat yang bisa ia dapat jika ia mengikuti kursus itu.

Miranti mengunyah makanannya sembari termenung memikirkan nasibnya mendatang, ia tidak banyak bicara lagi, ia hanya mendengarkan cerita-cerita dari mak Wanti yang menceritakan tentang masa remajanya dulu saat beliau seumuran Miranti dan Nira. Tanpa Miranti sadari, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Miranti bergegas pamit kepada mak Wanti. 

Ia mengayuh sepedanya dengan sedikit lebih cepat menuju sebuah sekolah dasar yang tidak jauh dari rumahnya, di depan sekolah itu berderet beberapa penjual jajanan yang biasa mangkal di depan sekolah, di antara banyaknya penjual jajanan dan anak-anak SD yang sedang berkerumun mengantri untuk membeli, Miranti melihat sosok anak kecil berusia 6 tahun yang sedang ikut berkerumun dan mengantri, Miranti memperhatikan anak kecil itu. Ia mengenakan ikat rambut pita berwarna merah muda, seketika Miranti mengenali sosok Astria adiknya. Miranti lalu memarkir sepedanya di seberang SD lalu berjalan menuju Astria.

‘’hai dek, jajan apa?’’ tanya Miranti sembari mencolek pipi adiknya itu.

Astria yang sedang mengantri sontak langsung menoleh ke belakang saat ia sadar ada yang mencoleknya, dan ekspresinya berubah menjadi sangat riang saat ia tahu yang ada di belakangnya itu adalah Miranti, kakak satu-satunya yang ia miliki.

‘’embaaaa...!! aku lagi beli basgor, emba mau ngga?’’ jawab Astria dengan polos.

‘’engga ah, buat kamu saja’’

‘’yaudah mba tungguin ya, sebentar lagi basgornya aku mateng’’

Miranti mengangguk sembari tersenyum tipis, ia sangat menyayangi Astria karena sedari bayi pun Miranti ikut mengurus Astria, apalagi saat ibunya sudah mulai bekerja lagi di pabrik setelah cuti 3 bulan setelah melahirkan Astria. Ibu dan bapak Miranti bekerja di pabrik yang sama yang letak pabrik itu tidak jauh dari rumahnya, sebelum Miranti pulang dari sekolah Astria bayi biasa di titipkan kepada neneknya lalu sepulang sekolah Miranti mengambil Astria dan mengurusnya di rumah sampai kedua orang tuanya pulang dari bekerja.

Miranti mengayuh sepedanya dengan Astria yang membonceng di belakang, sepanjang jalan Miranti dan Astria saling mengobrol dan Astria menceritakan hari-harinya di sekolah seperti biasa, mereka memang sangat dekat dan akrab.

Sesampainya di rumah Miranti segera memerintahkan Astria untuk mengganti seragamnya karena seragam merah putih itu masih harus dikenakan besok pada hari Selasa, dengan telaten Miranti memakaikan baju rumahan kepada Astria, lalu menyiapkan makan siang dan mereka makan bersama.

Sore harinya saat Miranti sedang menonton televisi tiba-tiba terdengar suara deringan hp yang ia letakan di dalam kamar, sontak Miranti bergegas mengambil hpnya dan melihat siapa yang menelfonya, ternyata Nira.

Lihat selengkapnya