HILANG

lulu larasati
Chapter #2

Bab 2 Perjalanan (Realitas dan Mimpi)

Senin sore yang cukup mendung, di antar bapak ibu, Astria serta paman Mulyono suami bik Yanti, Miranti berangkat menuju terminal dengan dua sepeda motor. Satu sepeda motor yang dinaiki oleh bapak, ibu dan Astria lalu satu sepeda motor lagi di naiki Paman Mulyono dam Miranti dengan seabreg barang bawaannya. Bapak ibu dan Astria melaju lebih dulu, di sepanjang jalan menuju terminal, Astria tidak henti-hentinya mengarahkan pandangan matanya kepada Miranti. Matanya berkaca-kaca, wajahnya yang biasanya cerah kini berganti merah merona seperti sedang menahan tangis. Miranti menyadari hal itu, setiap kali matanya bertemu dengan mata Astria ia langsung memalingkan wajahnya, ia tidak ingin terlihat sedih yang justru akan semakin memberatkan hati Astria untuk melepas kepergiannya.

Sesampainya di terminal mereka langsung menuju ke bagian paling belakang terminal, tempat PO bus yang akan Miranti naiki. Di depan PO bus sudah ada Nira yang di temani oleh ibunya dan pamannya, lalu ada Iyok juga, di sebelah Nira berdiri tiga wanita seusianya yang Miranti tebak mereka adalah Reni, Lia dan Putri. Miranti belum pernah bertemu dengan tiga sosok wanita itu, Miranti mengulurkan tangannya pada wanita yang tinggi kurus, berkulit putih dan berambut keriting.

‘’Miranti’’ sapa Miranti kepada wanita itu.

‘’Reni’’ balas wanita itu dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya, walaupun senyuman itu hanya sekilas tapi Miranti dapat merasakan kelembutan pada diri Reni.

Miranti beralih pada wanita di sebelah Reni, sosok yang bertubuh sedikit gempal, lebih pendek dari Reni dan berkulit sawo matang, dari parasnya Miranti bisa melihat ia sosok yang cukup periang dan sedikit manja.

‘’Lia’’ sapa wanita itu singkat dengan senyuman yang lebar.

Dan terakhir wanita yang tingginya hampir sama dengan Reni dan perawakan serta rambut keriting yang sama dengan Reni, ia Putri. Tapi kendati ia memiliki fisik yang hampir sama dengan Reni, Miranti dapat melihat perbedaan yang sangat jauh, selain garis wajahnya yang lebih tegas, Putri juga sangat flat, Miranti dapat merasakan sensasi yang berbeda saat ia menjabat tangan Putri, respon yang ia dapatkan dari putri pun berbeda dari dua wanita sebelumnya, dingin dan tenang.

Sekitar pukul 17.00 bus yang akan mereka tumpangi sudah masuk ke dalam area terminal dan melaju menuju arah mereka, bu Kus yang sedang berbincang dengan para pengantar yang lainya pun segera bangkit dan menghampiri Miranti, beliau memeluk Miranti sembari memberi Miranti nasehat-nasehat yang akan berguna di tempat perantauan nanti. Sementara itu Astria berdiri di depan Miranti, wajahnya mendongak ke atas memandang wajah Miranti, saat Miranti meletakan kedua tangannya di pipi Astria, pertahanan Astria jebol. Air mata yang ia tahan sedari tadi akhirnya mengalir, ia memeluk kakaknya itu dengan sangat erat dan membekapkan wajahnya pada tubuh Miranti.

‘’mba jangan berangkat’’

Kata-kata itu terlontar dengan nafas yang tersenggal-senggal, bu Kus berusaha menenangkan Astria.

‘’dek jangan begitu ya kasian mba nya, mba kan pergi cuma mau kerja, nanti kalo ada libur pasti pulang’’

Sekuat tenaga Miranti mencoba menahan air matanya supaya tidak jatuh, saat bus sudah berhenti tepat di hadapannya, ia bergegas pamit kepada bapak, ibu dan paman lalu melangkah dengan cepat masuk ke dalam bus di susul oleh Nira. Miranti berjalan di tengah-tengah kursi bus yang tertata dua di kanan dan tiga di kiri, ia melihat nomor H1 sesuai dengan nomor yang tertera di tiket, ia duduk tepat di sebelah jendela kaca. Dari dalam ia dapat melihat ibu dan bapak yang sedang mencoba menenangkan Astria yang sedang tantrum tidak mau diajak pulang, melihat adegan itu Miranti tidak bisa lagi menahan air matanya, Nira yang tepat berada di sebelahnya menyodorkan tisu yang ia bawa.

 

Beberapa jam kemudian Miranti membuka matanya saat terasa bus yang ia tumpangi berhenti, ia melihat jam yang ia kenakan di tangan, jam baru menunjukkan pukul 11.30 saat seorang kondektur bus berjalan ke belakang sembari menginformasikan bahwa mereka sedang berada di rest area, para penumpang di persilahkan untuk makan, pergi ke kamar kecil atau beribadah. Miranti masih berusaha mengumpulkan nyawanya ia diam sejenak memandang ke luar jendela, terlihat rest area itu cukup luas dengan resto yang cukup besar, terlihat barisan kursi dan meja yang berada di area resto yang terbuka itu, di samping resto ada masjid bercat putih yang cukup megah.

‘’mau turun ngga?’’ tanya Nira singkat.

‘’yang lain kemana?” tanya Miranti saat melihat tiga bangku di seberangnya yang sudah kosong.

‘’sudah pada turun, pada mau ke kamar mandi katanya’’

‘’yaudah yuk Ra turun, aku juga mau pipis’’ ajak Miranti

Miranti bangkit dari tempat duduknya, Nira sudah terlebih dahulu turun dari bus, Miranti memandang ke sekeliling, terlihat hampir semua kursi di bus itu sudah kosong, hanya ada dua kursi yang masih terisi di belakang, seorang ibu paruh baya dan wanita yang mungkin seusianya sedang menggendong bayi.

‘’ngga ikut turun bu?’’ sapa Miranti

‘’ngga dek, cucu saya lagi tidur, takut kebangun kalo nanti kita turun’’ jawab si wanita paruh baya

‘’owh yasudah bu, kami turun dulu’’

Miranti menundukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari bus, ia dan Nira bergandengan menyusuri barisan kursi dan bangku resto untuk masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya ada di dalam resto. Suasana cukup ramai, hampir semua bangku resto itu terisi.

‘’itu disana Ran’’

Nira menujuk sebuah plang yang bertuliskan ‘TOILET WANITA’ di sebuah lorong yang cukup sepi.

“koq rada ngeri ya Ran,’’

“sudah ayok, aman koq’’

“Ran, mending kamu lepas saja deh kacamata kamu, daripada kamu ngliat yang ngga-ngga terus nanti aku malah jadi ikut takut” pinta Nira.

Memang permintaan Nira terdengar sedikit aneh, namun Miranti sudah terbiasa dengan permintaan itu dan ia selalu menurutinya, demi kebaikan bersama, pikir Miranti. Sedari kecil Miranti memang bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia pada umumnya, dengan ia melepas kacamata minusnya, paling tidak ia tidak akan melihat dengan jelas apa saja yang ada di kamar mandi itu, dan ia tidak akan terlalu bereaksi, Miranti memang sudah terbiasa melihat hal-hal seperti itu, tapi bukan berarti Miranti tidak punya rasa takut, dan Nira selalu tahu kalau Miranti sedang merasa takut atau terancam, hubungan pertemanan yang sudah terjalin sejak kecil sudah membangkitkan chemistry diantara mereka.

Miranti masuk ke dalam bilik kamar mandi dan menyelesaikan kegiatannya, lalu ia keluar dan menunggu Nira di depan pintu kamar mandi. Miranti mengambil hp nya dan melihat ada beberapa pesan yang masuk, salah satunya dari bik Yanti. Melihat nama itu ia langsung menghela nafas dan memasukkan kembali hp nya ke dalam tasnya.

‘’ayo Ran’’

Ajak Nira yang baru saja keluar dari kamar mandi, mereka berjalan melewati resto yang cukup ramai, pandangan Miranti teralihkan saat ia melihat para pengunjung resto itu sedang menikmati hidangan yang ada di meja, Ia reflek memegang perutnya yang terasa lapar. Ia teringat sebelum berangkat bu Kus membawakannya nasi dan ayam goreng yang di bungkus dengan kertas minyak, yang ia masukan ke dalam tas oranye miliknya.

’’Ra makan yu!’’

‘’makan disini?’’ tanya Nira dengan wajah sedikit bingung.

Lihat selengkapnya