HILANG

lulu larasati
Chapter #3

Para Penghuni Loteng

“Ra, aku masih kepikiran sama kejadian tadi” ucap Miranti sembari matanya menerawang jauh entah kemana.

“kamu beneran liat bayi itu Ran?” tanya Nira dengan wajah serius.

“sumpah Ra! aku liat bayi itu, bahkan aku liat dua kali”

“dua kali?” tanya Nira yang kali ini terlihat kebingungan.

“iya waktu kita mau turun di rest area sama tadi pas mereka di turunkan dari bus sama sopirnya”

“mungkin ngga Ran kalo apa yang kamu liat itu sebenernya bukan bayi”

“maksudnya Ra? aku juga denger suara tangisan bayi itu”

“iya maksud aku, bagaimana kalau ternyata itu bukan bayi biasa tapi makhluk halus”

“ahh ngga tahu aku Ra... terlalu nyata buat aku”

“eh itu bang Ubed sudah datang Ran, tapi koq sendirian ya” tanya Nira kebingungan.

“mbak maaf ya motor yang satunya bocor, untung sudah deket sama yayasan tadi, kita bonceng tiga saja ya”

“yaudah deh bang” jawab Miranti pasrah

Motor melaju cukup pelan dari terminal menuju ke yayasan, sepanjang jalan Miranti dan Nira mengobrol cukup banyak dengan Ubed. Dari obrolan itu Miranti dan Nira jadi tahu kalau pak Dody itu bukan bagian dari PT. Pilar Jati, melainkan beliau adalah direktur sekaligus pendiri yayasan penyalur tenaga kerja yang akan mereka datangi sekarang. Ubed sudah ikut bekerja dengan pak Dody cukup lama, posisi Ubed di yayasan tersebut adalah seorang pembantu umum, ia mengerjakan pekerjaan apa saja yang di butuh kan di yayasan.

“terus abang tinggalnya di mana bang?” tanya Nira penasaran.

“kenapa emangnya mba?” Ubed justru balik bertanya kepada Nira yang duduk tepat di belakangnya.

“ngga papa si bang, ingin tahu saja, soalnya kita mau cari kostan yang deket sama PT nanti”

“ngga usah ngekost, tinggal di yayasan saja, banyak koq yang tinggal di sana”

“loh memang di yayasan ada mess nya bang?” Miranti ikut bertanya.

“bukan mess si sebenernya, kita tinggal bareng-bareng aja gitu di yayasan, sudah nanti kalo sudah sampe juga kalian paham maksudku”

Miranti dan Nira mengiyakan ucapan Ubed, motor berbelok ke arah kawasan ruko-ruko yang tepi jalan raya, dari jauh terlihat satu ruko yang cukup ramai dan lampunya lumayan gemerlap, banyak juga motor dan mobil yang terparkir di depan ruko, suara musik disko terdengar cukup keras saat motor melewati ruko itu, kemudian motor berhenti tepat di depan ruko yang terletak di belakang ruko yang lebih mirip seperti diskotek.

“bang itu depan tempat apa ya, koq rame banget?” Miranti penasaran.

“diskotek itu, jangan sampe masuk ke sana ya, inget tujuan kalian datang ke sini buat apa”

Ubed memarkir motornya di teras ruko dan  segera masuk ke dalam ruko. Ruangan di dalam ruko itu cukup luas, mungkin luasnya sama dengan lapangan badminton, di lantai dasar terdapat ruangan seperti ruang kelas lengkap dengan kursi meja yang berderet dan papan tulis putih yang tergantung, di ruangan paling belakang terdapat dapur dan kamar mandi. Ubed mengajak Miranti dan Nira untuk menaiki tangga menuju lantai dua.

Di lantai dua terdapat lima meja kerja yang di sekat setengah badan, di ujung depan terdapat sebuah ruangan yang di pintunya terdapat tulisan “Ruangan Direktur” dan di ujung belakang terdapat satu ruangan lagi yaitu ruangan manager,  tepat di sebelah ruangan manager terdapat satu tangga yang cukup curam, tangga itu terbuat dari besi atau baja yang jika di injak akan menimbulkan suara yang cukup berisik.

Ubed menaiki tangga itu, Miranti dan Nira mengikuti di belakang, di ujung tangga terdapat sebuah pintu, Ubed membuka pintu itu, di lantai tiga atau lantai ter atas terdapat sebuah halaman yang cukup luas, setengah ber atap dan setengah di biarkan saja tanpa atap, di sudut kanan halaman yang ber atap itu terdapat bangunan kecil, mirip seperti rumah petak, Ubed membawa Miranti dan Nira ke rumah tersebut.

Di depan rumah kecil itu terdapat banyak sandal yang artinya penghuni rumah itu juga banyak. Saat Miranti dan Nira masuk ke dalam rumah tersebut, mereka terhenti dan diam beberapa saat melihat para manusia berkumpul di dalam rumah kecil yang hanya satu ruangan saja, tanpa sekat, tanpa ruangan lain, dan di bawahnya hanya di lapisi karpet beludru yang sudah kusam.

“Niraa...!”

Miranti dan Nira akhirnya tersadar saat mereka mendengar suara yang memanggil nama Nira dari pojok ruangan, suara Lia. Reni, Lia dan putri sedang duduk di pojok ruangan seperti anak ayam yang sedang berteduh. Miranti dan Nira berjalan diantara kerumunan yang sedang sibuk sendiri dan tidak memperdulikan kehadiran Miranti dan Nira.

Miranti, Nira, Reni, Lia dan Putri bergerombol di pojok ruangan sebelah kiri seperti membentuk kelompok sendiri. Reni dan Lia secara bergantian memijat satu sama lain sedangkan Putri sedang asyik memainkan hpnya, Miranti dan Nira memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.

Baru beberapa jam Miranti tertidur, ia sudah di bangunkan oleh suara alarm hp entah milik siapa yang suaranya terdengar sangat absurd, yang membuat Miranti tidak bisa melanjutkan tidurnya, ia pun memutuskan untuk duduk dan melihat hpnya, jam sudah menunjukkan pukul 05.00, keadaan ruangan itu saat itu cukup gelap karena lampu memang dimatikan saat mereka semua tidur.

Ctek suara saklar terdengar saat lampu di nyalakan, terlihat Ubed sedang mencoba membangunkan teman-temannya yang tidur satu baris dengannya, satu laki-laki bertubuh gempal berkulit putih sepertinya seumuran dengan Ubed, dan satunya laki-laki yang sepertinya lebih muda, berbadan sedang, lebih berisi dari Ubed dengan potongan rambut yang rapih, Miranti ingat, laki-laki itu yang sebelumnya ikut dengan Ubed menjemput Miranti dan teman-temannya di terminal. Miranti memperhatikan orang-orang yang masih tertidur di ruangan itu, laki-laki dan wanita tidur dalam satu ruangan tanpa sekat, berjajar dan sepertinya mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, tetapi ada satu pemandangan yang membuat Miranti sampai mengernyitkan dahi, di pojok ruangan sebelah kanan terlihat dua orang, laki-laki dan perempuan yang tidur sembari berpelukan, dua orang itu terlihat seperti orang timur, berkulit gelap dan berambut keriting, kemudian di sebelah dua orang itu terdapat dua orang lagi yang sedang berpelukan juga, tidak jelas apakah laki-laki dan perempuan karena tertutup oleh selimut sangat rapat, dan di samping dua orang yang terbungkus selimut itu ada dua wanita yang tidur bersebelahan, salah satunya mengenakan jilbab, dan satu-satunya wanita yang berjilbab di ruangan ini.

“mba-mba kalo mau pada mandi di kamar mandi bawah, mending pada turun sekarang ya, mumpung orang kantor belum pada masuk” teriak Ubed dari depan pintu, ia kemudian masuk ke dalam gubug kecil yang berdiri di depan bangunan rumah, terdengar suara seperti orang yang sedang mandi dari dalam gubug itu,

“disitu juga bisa buat mandi mba, tapi ya begitu ngga ada atapnya, terus banyak celahnya juga” ucap wanita yang baru saja terbangun di sebelah wanita berhijab.

“oh iya mba, saya Miranti mba” ucap Miranti sembari menyodorkan tangannya wanita itu.

“saya Dina” jawab wanita berambut coklat yang dari paras dan logatnya, sepertinya ia orang Jawa, sama seperti Miranti dan teman-temannya.

“oh iya mba Dina”

“panggil Dina saja, kamu asalnya darimana Miranti?’’

“aku dari kota P mba, Jawa Tengah” jawab Miranti.

“loh sebelahan sama Kabupaten ku itu, berarti kita masih satu karisidenan” Dina terlihat antusias.

“owalah ketemunya sama orang deket juga ya mba, mba Dina sudah lama di sini?”

“aku sudah 2 tahun di sini Miranti,”

“oiya mba kerja di mana? Ngga siap-siap mba?”

“aku sudah dua minggu ini di liburkan dari PT, soalnya lagi sedikit orderannya” Dina terllihat lesu saat menjelaskan keadaan tempat kerjanya.

“memang mba Dina kerja di mana mba?”

“aku kerja di PT. PILAR JATI”

“loh aku juga mau interview di PT itu mba”

Dina cukup kaget mendengar jawaban Miranti, bagaimana bisa sebuah perusahaan yang hampir bangkrut malah merekrut karyawan, sepertinya ada sesuatu yang janggal, pikir Dina.

“ini teman-teman kamu juga mau masuk ke PILAR JATI?”

Lihat selengkapnya