HILANG

lulu larasati
Chapter #4

Sosok itu adalah "DIA"

Miranti membeku ia terlalu takut untuk bergerak atau berteriak, ia hanya bisa memandangi sosok itu, ia mencoba menggerakkan tangannya untuk membangunkan Nira, tetapi saat sosok itu menyadari kalau Miranti sedang menatapnya, ia langsung berlari keluar dari dalam rumah itu.

Barulah setelah sosok itu pergi, Miranti dapat bergerak dan segera membangunkan Nira.

“Ra, bangun Ra!” Miranti menggoyang-goyangkan bahu Nira.

“Kenapa Ran?! Kenapa?!” tanya Nira dengan panik melihat ekspresi wajah Miranti yang sedang ketakutan.

“Tadi ada orang masuk kesini ngliatin kamu lagi tidur Ra!” jawab Miranti dengan suara bergetar.

“Hah! Orang siapa Ran? Mana orangnya?!” Nira bertambah panik.

“Dia lari keluar” Miranti menunjuk ke arah pintu yang sudah terbuka.

“Ran kamu serius? Ngga salah lihat kan?” Nira mencoba meyakinkan Miranti.

“Sumpah Ran”

Miranti menggenggam tangan Nira supaya Nira bisa merasakan tangannya yang bergetar dan dingin saking ia ketakutan melihat sosok itu. Saat itu Nira mencoba berpikir dengan cepat, bagaimana ia harus bertindak, kepada siapa ia harus melaporkan dan apa yang harus mereka lakukan sekarang. Nira tidak mau gegabah, apalagi ia tahu bahwa Miranti tidak hanya bisa melihat manusia, tapi ia bisa melihat hal lain, akhirnya malam itu Miranti dan Nira memutuskan untuk berjaga dan tidak tidur lagi, setelah menutup pintu depan, mereka duduk bersama dalam posisi siaga.

“Kita perlu bangunin yang lain ngga sih Ra? kalau orang itu datang lagi, kita bisa lawan bareng-bareng sama yang lainnya” Usul Miranti, tapi usul itu tidak diterima mentah-mentah oleh Nira.

“Iya kalau itu benar-benar orang Ran, kalau yang kamu lihat bukan orang, kita malah cuma bikin kegaduhan aja” jawab Nira datar.

Miranti menurut pada perkataan Nira, ia begitu mempercayai Nira karena menurut Miranti, secara sikap dan pemikiran, Nira memang bisa menjadi lebih dewasa dan lebih tenang daripada Miranti, Nira juga cenderung lebih berani daripada Miranti.

Miranti mengambil hp-nya, jam sudah menunjukkan pukul 01.20, para penghuni lainnya terlihat masih tidur dengan nyenyak, Miranti dan Nira berjaga dalam keadaan hening sembari memantau sekitar, ada perasaan takut dan sesal dalam dirinya, seharusnya tadi ia langsung teriak dan membangunkan bang Ubed atau penghuni yang lain, tetapi ia kembali mengingat ucapan Nira, bagaimana kalau sosok yang ia lihat bukan manusia? Miranti menjadi kalut dan gelisah, tapi ia mencoba untuk tetap tenang, ia tidak ingin menampakkan rasa takut dan kegelisahan yang ia rasakan kepada Nira.

Kesunyian malam itu perlahan membuat rasa kantuk mulai melanda pada diri Miranti, sesekali ia melirik pada Nira yang sedang chat bersama Iyok, sepertinya Nira sedang menceritakan apa yang baru saja mereka alami kepada Iyok. Miranti menyandarkan kepalanya kepada tembok yang ada di belakangnya, tanpa Miranti sadari, ia mulai terlelap.

Entah sudah berapa lama ia terlelap sampai akhirnya ia terbangun dalam keadaan kaget dan lehernya terasa sangat kaku, Miranti terbangun karena mendengar suara alarm absurd yang ia dengar malam sebelumnya, artinya waktu sudah menunjukkan pukul 05.00. Ia melihat ke arah sebelahnya, ternyata Nira masih terjaga, ia sedang membaca ebook di hpnya.

“Maaf ya Ra, aku ketiduran” Ucap Miranti menyesal.

“Ngga papa Ran, aman koq,” Nira mencoba menenangkan Miranti.

“Kayaknya kalo kita tidur sekarang sudah aman Ran, yang lainnya sudah pada bangun itu, tidur yuk,” ajak Nira.

Miranti menurut, sebelum tidur mereka sudah membuat sebuah note dan uang tiga puluh ribu yang mereka letakan di dekat Lia, supaya saat Lia bangun ia bisa melihat note itu dan menyerahkan uang itu kepada Ubed untuk membeli sarapan.

Entah sudah berapa lama Miranti dan Nira tertidur, tapi hawa gerah mulai terasa menjalar di seluruh tubuhnya, ia pun terbangun dan mendapati hari sudah terang benderang, ia pun mengambil hp-nya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.45. Di dalam ruangan itu hanya ada dirinya, Nira dan Nur, tumben sekali anak itu sendirian batin Miranti. Entah ke mana teman-temannya pergi, sepertinya mereka ada di halaman sebelah, Miranti tidak berniat untuk mencari mereka, kepalanya terasa sakit dan matanya terasa cukup panas, ia hanya mengikat rambutnya dan kembali merebahkan diri.

“Jam berapa ini Ran?” tanya Nira yang baru saja terbangun.

“Duabelas kurang Ra”

“Aduh laper banget aku Ran, makan yuk” ajak Nira.

Miranti pun bangkit dari tidurnya dan mengambil dua bungkus nasi yang terletak tidak jauh dari posisi mereka tidur. Miranti dan Nira duduk bersila saling berhadapan menikmati nasi bungkus yang sudah sedikit melar terkena kuah dari sayur yang di satukan di dalam bungkusnya.

“Makan mba” Miranti menawari pada Nur

“Iya mba makasih” jawab Nur dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.

“Sini mba gabung” ajak Nira

“Iya mba makasih, aku mau tidur siang aja” jawab Nur sembari merebahkan dirinya.

“Tumben sendirian mba? Temenya kemana?” Nira Penasaran

“Lagi interview mba”

Nira tidak melanjutkan pertanyaannya karena melihat Nur yang sudah bersiap untuk Tidur, Miranti pun tak ingin mengganggu Nur. Mereka berdua hanya melanjutkan sarapan yang di rapel dengan makan siang dengan tenang.

Selesai makan siang mereka keluar dari dalam ruangan menuju halaman samping rumah petak, di halaman sudah ada Reni, Lia, Putri dan Dina.

“Eh kalian sudah bangun, sini ikut gabung” ajak Lia.

“Oiya mau beli makan siang ngga? Bang Ubed bentar lagi mau kesini nih” tanya Putri pada Miranti dan Nira.

“Nasi bungkus yang tadi saja baru kita makan Put, kalian saja deh” jawab Nira sembari menyandarkan tubuhnya pada tembok yang ada di belakangnya, diikuti juga oleh Miranti.

“Pada kenapa ini? Kok lemes banget?” tanya Dina.

Miranti dan Nira memang belum menceritakan apa yang mereka lalui tadi malam kepada siapa pun, mereka sepakat untuk mencari bukti terlebih dahulu kalau yang semalam Miranti lihat benar-benar manusia.

“Iya mba semalam kita begadang nobar drakor” jawab Miranti sekenanya, Nira pun hanya mengangguk mengiyakan jawaban Miranti.

“Oiya, kak Roslinda koq ngga keliatan lagi ya?” tanya Miranti pada Dina.

“Iya dia memang ngga nentu begitu pulang ke sini nya, soalnya kerjaannya dari malam sampai pagi, kadang dari pagi sampai pagi juga” Dina mencoba menjelaskan.

“Emangnya dia kerja di mana mba?”

“Di club malam terbesar yang ada di kota ini”

“Tapi koq tinggalnya masih di sini si mba?” Miranti makin penasaran.

“Iya mereka jauh-jauh dari NTT, suaminya di imingi-imingi kerjaan di PT Nemos sama pak Dody, sudah habis hampir limabelas juta buat admin dll tapi masih belum ada panggilan sampai sekarang, jadi mba Roslinda terpaksa kerja di club itu, jadi pengantar minuman, sering nginep di sana juga” Dina menjelaskan.

“Kalo suaminya dia kerja dimana mba?” Nira ikut penasaran.

“Suaminya masih belum kerja, cuma ngikut-ngikut kak Roslinda saja, kaya bodyguard, mereka itu sebenernya lagi nuntut supaya uang mereka yang ada di pak Dody bisa balik lagi, uang limabelas juta bukan uang kecil kan”

Lihat selengkapnya