His Obsessions, Her Home

Ang.Rose
Chapter #1

The Peak Point

“Zea’s Beauty kembali mengel uarkan produk terbaru mereka, di era gempuran bahan aktif, Zea’s membuat camppgine kembali ke basic, dengan rangkaian mouisturizer untuk kebutuh setiap kulit, memakai bahan natural dari lidah buaya, Zea’s menawarkan kelembaban maksimal meskipun cuaca sedang masuk musim kemarau.”

Yuna mematikan ponselnya, dia bersandar di bangku mobil meskipun sudah masuk musim kemarau namun sejak semalam hujan tidak hentinya turun, terdengar sayup-sayup bunyi air dan gemuruh dari awan, seakan langit mau runtuh.

Mungkin langit tidak akan runtuh namun perusahaan yang sudah dibangun sejak 10 tahun lalu sudah pasti runtuh dalam waktu 2 bulan, dan ini adalah harapan terakhirnya.

Yuna sebagai CEO dan Greta manajer operasional berbagi tugas untuk menemui investor lama berusaha untuk meminta investasi tambahan namun mereka mengatakan bahwa mereka tidak bisa memberikannya lagi.

Namun tak hanya itu, mereka mengatakan bahwa seseorang sudah membayar investasi mereka sehingga kini mereka tidak terlibat lagi dengan YNK, dan ketika Greta menemui salah satu investor dia mengatakan hal yang sama dan mengarahkan mereka berdua ke tempat ini.

TS Grup, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata, mereka baru saja mendirikan hotel terbaru mereka di Jakarta, TS Hotel dan kini si pewaris tunggal TS Grup sedang berada di Indonesia untuk mengurus hotel tersebut.

Mendengar sebuah perusahaan sebesar itu mengatakan mereka memiliki waktu untuk mendengarkan permintaan mereka hal ini membuat Yuna sedikit tidak percaya diri.

Tidak percaya diri, sudah pasti, Yuna telah berulang kali menghadapi kegagalan, permintaannya ditolak, dikatain tidak masuk akal dan bodoh. Depresi, sudah pasti, cemas apalagi. Yuna bukan hanya memikirkan dirinya sendiri, jika bicara tentang dirinya, dia masih bisa hidup, tapi karyawannya—merekalah yang dipikirkan oleh Yuna.

Perusahaan milik Yuna adalah perusahaan kosmetik lokal yakni, YN Kosmetik, atau yang biasa disebut YNK. YNK selalu berusaha untuk menghadirkan produk yang terjangkau dan tepat guna.

Pasar mereka merupakan umur 20 hingga 35 tahun, mereka merajai pasar hingga 2 tahun lalu, produk mereka selalu laku besar, pendapatan mereka diatas rata-rata. Namun, Yuna sebagai CEO tidak pernah mau mengambil resiko.

Meskipun tawaran ekspansi selalu datang pada mereka, Yuna tidak mau aji mumpung, dia tetap fokus pada produk mereka dan mempertahankan komunitas yang telah mereka bangun.

Namun belakangan, kurang lebih setahun kebelakang ini mereka seakan kehilangan momentum, Yuna dan timnya bekerja keras membaca pasar dan memperkirakan tren, namun selalu, selalu mereka kehilangan momentum terhadap kompetitor mereka 2 tahun belakangan, Zea’s Beauty.

Perusahaan kosmetik dari China yang memberikan produk yang harganya jauh lebih murah dari mereka, dan entah mengapa Yuna melihat arah perkembangan produk mereka selalu sama dengan apa yang sedang mereka kembangkan.

Apa ini memicu kecurigaan pada Yuna? Jawabannya, sedikit, tapi Yuna begitu percaya pada timnya, dalam logika Yuna, jika mereka bisa membaca pasar sudah pasti mereka juga, apalagi Zea’s merupakan perusahaan besar tim mereka banyak dan modal mereka besar, sehingga tidak heran jika mereka bisa merilis produk dengan cepat.

Yuna kembali menghela nafasnya, perlahan, semakin lama semakin berat, dia tidak mendapatkan udara, Yuna menekan tombol power window untuk menurunkan jendela agar ada udara yang masuk ke dalam mobilnya.

Kalau ini gak berhasil juga gimana?

Ucapan itu berulang kali muncul di kepalanya, tergiang-ngiang hingga tidurnya tak bisa nyenyak selama sebulan ini, bahkan bisa dibilang dia tidak tidur untuk memikirkan solusi yang harus dia lakukan.

Awalnya, Yuna ingin memakai sisa trust fund miliknya, namun sang tante menolak dengan keras.

“Tante tahu perusahaan sama karyawan kamu penting, tapi kamu juga jauh lebih penting, Na. Kalau semua kamu pake, kamu makan apa nanti? Orang tua kamu nunjuk tante sebagai legal guardian kamu bukan main-main Na. Meskipun kamu udah dewasa di mata hukum dan berhak dengan uang kamu sendiri, tapi enggak dengan tante, kamu masih tanggung jawab tante sampai kamu menikah.”

Yuna mengurungkan niatnya untuk kembali bicara tentang itu pada tantenya, karena dia tahu yang ada beliau akan kembali memarahinya atau menyuruhnya kembali ke Jogja dan Yuna tidak mau menyerah.

Dia sudah menyusahkan tantenya belasan tahun bahkan membuat tantenya terlambat menikah demi mengurusnya, yang Yuna tahu dia tidak ingin menjadi orang yang egois dan merepotkan.

Tapi keras kepala, sudah mendarah daging padanya.

Yuna dengan berat hati dan mencoba untuk percaya diri turun dari mobil untuk masuk ke dalam hotel ini, dia sudah beberapa menit sampai namun belum juga memberanikan diri dan kini dia memberanikan diri untuk masuk.

Tanpa dia tahu, seseorang telah mengamatinya sejak dia di dalam mobil.

Lihat selengkapnya