His Obsessions, Her Home

Ang.Rose
Chapter #3

The Attack

Yesa merasa dia sudah terlalu lama menunggu, dia berpikir betapa bodohnya dia yang tidak menemui Yuna sejak awal, sejak lama, atau mencarinya keujung dunia sejak dulu, seharusnya dia melakukan itu sejak awal. Jika dia tahu ternyata sebesar ini perasaannya, sebesar ini rasa bersalahnya dia tidak akan, tidak akan menunggu selama ini hanya untuk menemui Yuna.

“Na, I miss you,” ucap Yesa begitu dia dengan jelas melihat wajah itu, mata yang selalu tersirat begitu banyak ucapan, makna, dan teriakan. Mata yang selalu membuat Yesa kembali merasakan sesuatu yang terbang di perutnya atau detak jantungnya yang bergemuruh, yang bahkan lebih kencang dari pada petir diluar sana.

“Ye–sa?” 

Yesa mengerutkan keningnya, kenapa dia? Kenapa dia gemeteran?

Yesa bisa dengan jelas melihat Yuna yang bergetar dengan hebat, tubuhnya seakan tidak bisa menahan tekanan yang muncul dari dalam, wajah yang awalnya merah karena habis menangis, perlahan-lahan berubah putih, makin putih dan warna bibirnya pun meskipun memakai lipstik terlihat mulai pucat.

Tangan kiri Yuna berusaha meraih pintu mobil sepertinya kaki Yuna sudah tidak bisa lagi bertahan tidak bisa lagi membuatnya untuk tetap berdiri dalam kondisi seperti ini. Benar saja terdengar erangan nafas dari Yuna.

“Na, Nana, nafas Na!” ucap Yesa sambil menarik tangan kiri Yuna dan berusaha memeluknya.

Dia ingat kondisi ini, Yuna kembali mengalami hal yang sama ketika mereka masih SMA. meskipun Yuna meronta dipelukannya namun Yesa tetap menahan tubuh Yuna dengan tangan kirinya, sedangkan tangannya yang lain membuka pintu belakang.

Dia masuk ke dalam dan memangku Yuna di dalam pelukannya, Devan pun mendekat dan membuka pintu supir. “Saya layain AC ya pak. Sekalian saya pinggirin mobil dulu.”

Yesa hanya mengangguk dan memberi isyarat tangan menyuruh Devan turun segera menutup pintu, dia tahu Yuna tidak mau terlihat oleh orang lain.

Butuh beberapa waktu untuk Yuna akhirnya bisa kembali tenang, walau Yesa tahu perbuatannya mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa bagi dirinya sendiri, bagaimana tidak, karena percuma, Yuna pasti mendorongnya pergi.

Dan pemikirannya terbukti benar, Yuna sudah kembali tenang, sudah kembali bisa bernafas dengan benar, dan hal pertama yang dia lakukan bukannya berterima kasih atau tersenyum untuk Yesa melainkan….

Lihat selengkapnya