Berlari, terus berlari, itulah yang dipikirkan oleh Yuna, entah bagaimana caranya Yesa bisa tahu betul dimana posisinya, selama ini, selama dia menghilang Yesa tidak pernah berusaha mencarinya, jadi kenapa sekarang? Kenapa sekarang tiba-tiba dia muncul begitu saja?
Yesa bagi Yuna adalah orang yang tidak bisa dia hindari. Keputusannya waktu itu meninggalkan Yesa dan pergi adalah keputusan yang tepat dia bisa seperti ini karena kerja kerasnya sendiri, kalau sekarang Yesa tiba-tiba membantunya, kebanggan dirinya tentang sendirian akan hilang.
Yuna memandang sebuah pigura di samping tempat tidurnya, foto keluarganya ketika dia masih kecil, ketika orang tuanya masih hidup. Dia mengambil pigura itu lalu duduk di lantai dan bersandar ke kasur.
“Ma, Pa, aku ketemu lagi sama dia, aku kalut, aku ketakutan, tapi entah kenapa pelukannya masih sehangat dulu. Entah mengapa—” Yuna naik ketempat tidur lalu membaringkan tubuhnya.
Dia lanjut memandangi foto keluarganya. “Aku tahu kalau pelukan itulah yang aku butuhkan, pelukan itu yang aku rindukan. Kenapa? Kenapa cuma Yesa yang bikin aku tenang?”
Dalam kesendiriannya, dia tidak pernah membayangkan akan kembali bertemu dengan Yesa, sosok yang selalu ada di masa terberatnya, tapi juga menjadi alasannya untuk pergi dari kehidupan itu.
Yesa tidak salah, tapi mungkin memang kondisi mereka yang mengharuskan mereka untuk berpisah, bukan karena keluarganya tidak menerimanya, tapi memang hal-hal menyedihkan itu membuatnya memilih untuk meninggalkan Yesa.
Yesa tak pernah salah….
Ini semua kesalahannya….
Perlahan-lahan Yuna tertidur, ini pertama kalinya setelah beberapa bulan dan beberapa tahun dia tidur tanpa bantuan obat.
Ini pertama kalinya, dia bisa tidur karena menangis. Biasanya meskipun dia menangis dengan keras, meskipun matanya bengkak, dia tetap tidak akan tidur.
Ini pertama kalinya, dia bisa merasakan ketenangan.
Meskipun terlalu banyak pertanyaan tapi banyak juga keadaan yang membuatnya—tenang.
Yesa seakan seperti cahaya di kehidupan Yuna yang gelap. Yesa seakan adalah padang rumput yang luas yang membuatnya bisa melupakan segalanya walau hanya sejenak. Yuna tahu, bahwa pelukan Yesa adalah pelukan yang mengajaknya untuk pulang dan memberikan beban yang dia pikul padanya.
Itulah Yesa bagi Yuna, seseorang yang bisa membuatnya tenang, seseorang yang bisa membuatnya percaya, meskipun mungkin rencananya gagal, rencananya berantakan, Yesa akan ada disana membantunya untuk kembali merangkai jalan yang rusak, dan membuatnya tetap berada di jalan yang benar, menjaga langkahnya.
***
Drrt~!
Yuna perlahan membuka matanya, dia mencoba membuka mata mencari dimana sumber getaran itu, dia pikir ini masih malam karena biasanya dia memang suka terlelap tapi kembali bangun di tengah malam. Tapi ternyata, langit terang benderang, getaran dari ponsel pun terus mengganggunya.
Dia mencarinya dibawah bantal di bawah selimut dan ternyata masih ada di dalam tas yang dia letakkan di samping kasur.
Greta.
“Hmm, kenapa? Ketiduran nih kayaknya gue sebentar.”
“Ketiduran? Sebentar? Ini udah jam 8 pagi gila! Udah pagi! Semalem gue telfon lo gak diangkat.”
“Jam 8? Pagi? Gue tidur?”
“Lo minum obat?”
Mendengar pertanyaan itu Yuna menoleh kesamping, dia melihat obat yang ada di samping dan menghitung jumlahnya, ternyata masih sama, dia belum minum obat semalam. “Enggak.”
“Yaudah deh, sekarang mending lo kesini, ke kantor cepetan, urgent, mandi dulu deh mending ya.”
Yuna pun langsung mematikan panggilan tersebut dan bergegas mandi, dia bersiap-siap dan langsung pergi kembali ke kantor.
Dia pun berlari-lari untuk sampai ke kantor. Pamela ternyata sudah berdiri di meja resepsionis menunggunya. “Greta mana?”
“Lo ya!” Pamela seakan ingin menjambak rambutnya namun diurungkan niatnya karena sekarang bukan waktunya. “Cepetan masuk mendingan ya, kasian Greta didalem.”
“Dimana? Ruang meeting?”
“Enggak ruangan lo! Cepet!” pinta Pamela.
Yuna pun berlari ke arah ruangannya, dia melihat Greta yang ada di sofa duduk, di depannya ada laki-laki dengan setelan yang hampir sama dengan kemarin, dia memakai kemeja biru polos bergaris putih dengan celana hitam, tapi masih memakai sepatu yang sama.
Laki-laki dengan setelan jas rapi berdiri disampingnya.