His Obsessions, Her Home

Ang.Rose
Chapter #5

As Much As This

Devan membuka pintu mobil dan ternyata benar Yesa pun masuk ke dalam mobil dengan perlahan, tidak seperti biasanya. “Pak beneran gak enak badan?”

“Hmm, semalem gue gak bisa tidur lagi, makanya gak enak badan gue, kok lo tahu?”

Devan menyalakan mobil lalu pergi dari gedung tersebut. “Bu Yuna tadi bilang sama saya katanya bapak sakit.”

“Dia khawatir sama gue Van?”

Devan menginjak pedal rem perlahan ketika lampu lalu lintas di depannya berubah merah. Dia mengambil ponselnya dan menekan sebuah nomor. “Halo Pak, Devan dari kantor sekretaris LM Grup.”

“Ada yang bisa di bantu Pak?” ucap seseorang di balik panggilan tersebut.

“Tolong siapin satu kamar ya Pak, sama saya minta satu dokter umum sama dokter penyakit dalam stand by, Pak Yesa sakit saya mau bawa kesana.”

“Baik Pak.”

Devan meletakan kembali ponselnya dan kembali menyetir mobil, namun dia merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya, dia tahu itu adalah Yesa. Orang ini selalu bertindak layaknya dia adalah orang yang tegas dan keras tapi sebenarnya—dia hanya haus perhatian.

Begitulah Devan memandang Yesa. Devan ikut dengan Yesa sejak Yesa melihatnya magang di bagian marketing, Devan tidak mengerti apa yang Yesa lihat dari dirinya, karena dia tidak bisa berjualan, dia bahkan hanya diberikan tugas receh karena dianggap tidak bisa bekerja.

***

6 tahun lalu.

“Kamu!” teriak Yesa ketika Devan mau keluar dari ruang rapat antara Kantor Direktur dan Kantor Marketing.

Beberapa bulan terakhir mereka sedang melakukan penjualan untuk sebuah apartemen mewah di daerah Jakarta Pusat, saat pertama kali masuk magang Devan pernah membaca tentang proyek itu, dan Devan hanya sering bergumam kalau dari titik lokasi dan melihat lingkungan tempat itu lebih cocok untuk sebuah hotel, jika dipaksakan menjadi sebuah apartemen harganya akan terlalu tinggi, sedangkan jika hotel mereka akan meraup lebih banyak keuntungan.

Namun pendapatnya justru ditolak mentah-mentah oleh tim marketing karena itu dia tidak pernah lagi diberikan tugas yang penting di bagian marketing namun tugas biasa saja, termasuk menyiapkan ruang rapat hari itu.

Merasa bahwa dia panggil Devan pun berhenti berjalan dan kembali ke ruang rapat sambil melihat orang yang memanggilnya. “Bapak manggil saya?”

“Iya kamu, sini duduk di samping saya,” ucap Yesa sambil menarik sebuah kursi kosong dan tangannya memberi isyarat untuk Devan duduk disampingnya.

Devan pun mengangguk lalu duduk di kursi tersebut. Yesa menggeser laptop yang ada di depannya kepada Devan. “Catet meeting hari ini.”

“Saya?”

“Ngebantah?”

“Gak ngebantah Pak, saya nanya aja.”

Meeting pun dimulai mereka mulai memberikan laporan mereka masing-masing, ternyata meskipun sudah beberapa bulan ini mereka melakukan promosi dari hampir 2000 unit hanya terjual 5 unit saja.

Yesa menyuruh tim marketing untuk berhenti bicara. “Ingat meeting kita di awal tahun kemarin? Saya bilang kalau kita gambling bikin apartemen di tempat itu, tapi kalian bilang apa?” tanya Yesa.

Semua orang sepertinya tidak ada yang berani menjawab, Devan mencoba mencari hasil meeting sebelumnya di laptop itu karena pasti ada, dia pernah mendengar bahwa Yesa adalah orang yang menyimpan segala sesuatu.

“Jawab! Saya nanya gak ada yang jawab!?”

“Walau tempatnya cukup pinggir tapi karena masih masuk wilayah Jakarta Pusat akan mudah menjual tempat tersebut,” ucap Devan sambil membaca dokumen yang berhasil ditemukan.

Yesa menatap Devan. “Siapa yang ngomong itu?”

“Kepala Divisi Marketing,” jawab Devan datar.

“Apa saya pernah memaksakan kehendak saya ke kalian? Saya tahu kalau tempat itu gak akan berhasil jadi apartemen, tapi kalian bilang kalian bisa jual, dan ketika ada anak magang bilang kalau tempat itu lebih cocok untuk hotel, kalian outcast dia, dan jadiin dia pajangan. Sekarang siapa yang mau tanggung jawab?”

Suasana di ruang meeting itu benar-benar langsung berubah dalam beberapa detik, tak ada yang bicara, sebagian orang menundukan kepala sebagai orang saling bertatapan dan beberapa orang menatap Devan kesal dan seakan bersiap memakinya.

“Matilah, tamatlah gue abis ini,” ucap Devan dalam hati.

Seorang direktur membelanya dan memarahi timnya yang profesional dan bekerja lebih lama darinya, siapa yang tidak akan kesal dan benci dengannya.

“Udah bubar kalian! Pergi dari sini.”

Mendengar itu Devan menghela nafas dan meletakan laptop lalu berdiri. 

“Siapa yang suruh kamu pergi?” tanya Yesa sambil mengambil laptopnya dan membuka email.

Devan bisa melihat bahwa dia mengirim email kepada HRD, Yesa menarik tanda pengenal yang dia pakai untuk melihat nama panjangnya.

‘Devan Adiantara selesai bertugas di marketing, sekarang bertugas di kantor COO sampai dia selesai magang. Berikan gaji sesuai dengan staff baru.’

Lihat selengkapnya