Yuna menatap keluar jendela kantor, langit telah berubah gelap, dilihatnya jam di mejanya sudah pukul 9 malam, dia merapikan barang-barangnya dan bergegas pergi.
Dia juga pergi kesana-sini untuk beli hutang investasi YNK.
Kata-kata itu sejak tadi mengganggunya, jelas saja, dia tidak yakin kalau Yesa mengawasinya sejak dulu, jika memang iya, dia tahu kalau Yesa itu orang yang bertindak semaunya, jika dia sudah tahu dimana posisinya sejak awal tidak mungkin Yesa diam saja.
Sepertinya, memang ada yang memberitahunya tentang masalah perusahaannya. Yuna membuka laci meja dan mengambil 3 dokumen itu, dia melihatnya lagi. Semua benar-benar sudah dibayar kontan. Hutang investasi sebanyak 50 miliar itu, sudah selesai. Bahkan mereka membayar keuntungannya juga.
“Sa, ngapain sih kamu begini.”
Yuna sebenarnya bisa saja dengan mudahnya mengambil tawaran itu, tapi melihat kembali kejadian masa lalu, bagaimana kedekatan mereka membuat banyak sekali masalah untuknya, Yuna ragu untuk memulai kembali.
Memulai untuk berteman atau kembali terhubung dengannya.
Yuna memutuskan untuk pulang dan kembali ke rumah, apartemennya tak jauh dari perusahaan, dia merasa tak sanggup jika harus bertemu Yesa lagi hari ini, dia benar-benar tidak kuat. Jika dia bertemu Yesa hari ini mungkin dia akan menyerah pada pendiriannya dan menerima Yesa.
Karena melihat Yesa tak sekuat itu, mendengar bagaimana dia sebenarnya berlari kesana kemari untuknya, mendengar bagaimana kondisinya, Yuna tahu dia tak akan bertahan.
Tapi sepertinya orang itu benar-benar mengerti, Yesa tahu bagaimana sifat Yuna.
Yuna berhenti ketika dia melihat orang itu di hadapannya, Yesa menunggu di depan pintu apartemen. Dia mengenakan turtle neck berwarna ivory, dengan celana sweatpants berwarna coklat, dengan sepatu putihnya yang tak dia ganti.
Rambutnya masih berantakan, wajahnya belum begitu sehat. Tring~! Ponsel Yuna mendapat pesan baru, dia melihat pesan tersebut dan berusaha untuk menahan ekspresi wajahnya.
Pak Yesa, pulang ke apartemen Bu, demamnya udah turun tapi kondisinya masih belum stabil.
“Lo ngapain disini?” tanya Yuna sambil membuka apartemennya.