Pintu apartemen terbuka, namun diikuti suara keras seperti ada barang atau lemari yang jatuh ke lantai. Yohan dan Devan yang berada di dalam saling bertatapan.
“Suara pintu dibuka kan tadi?” tanya Yohan.
“Iya ada suara tringnya. Terus suara apaan tadi?” Devan juga ikut kebingungan.
Yohan seakan baru menyadari. “Kak Yesa!” serunya lalu berlari ke arah pintu diikuti oleh Devan dibelakangnya.
Benar saja Yesa tergeletak di depan pintu. Devan dan Yohan memindahkan orang itu ke sofa, Devan memeriksa kening Yesa yang ternyata juga cukup panas.
“Demam lagi dia?” tanya Yohan.
“Iya Mas. Gimana ya mau panggil dokter aja?”
Yohan justru menggelengkan kepalanya, percuma, Yesa sebenarnya sudah sehat dia tahu itu tapi mungkin ada sesuatu lagi yang terjadi dan membuatnya kembali kehilangan gairah hidup.
“Lo pulang aja Van, biar gue yang ngerawat Yesa.”
“Yakin Mas? Mas Yohan ngerawat Pak Yesa?”
“Ih, Tuhan tolong, udah sih percaya aja, pulang aja.”
Devan menunduk lalu berbalik dan berjalan keluar, namun dia akhirnya berbalik lagi. “Mas,” panggil Devan, Yohan pun menatap ke sumber suara tersebut. “Maksud Mas Yohan bukan ngajakin Pak Yesa mabok kan?”
“Lah ya iya, dia butuh alkohol sekarang. Jadi mending lo pergi Van, biar harga dirinya gak jatuh banget.”
“Tapi dia harus masuk kerja besok, yakin?”
“Pulang, gue bilang pulang, pulang,” ucap Yohan sambil menunjuk pintu keluar.
Devan pun akhirnya pergi meninggalkan apartemen itu. Meninggalkan Yesa di tangan Yohan.
Yohan melihat kakaknya dengan kasihan, selama ini Yesa selalu menjadi jangkar keluarganya, baik dia, ataupun Alexa. Ketika konflik diantara dia dan Alexa terjadi, Yesa yang menjadi penengah untuk mereka berdua. Tanpa peduli bahwa dirinya juga sedang mencari seseorang.
Karena itu, ketika dia tahu Alexa kembali ke Indonesia, meskipun bara api kecewa dan kekesalan masih melandanya waktu itu, dia mencoba untuk mencari tahu tentang Yuna. Perempuan yang dicintai Yesa sejak dulu.
Yohan pun tak mengerti alasan kenapa Yuna meninggalkan Yesa, padahal orang tua mereka tidak menentang sama sekali. Mereka tidak perlu takut dengan pernikahan politik ataupun pernikahan demi perusahaan, karena ayah mereka Hadiraganta tidak pernah setuju tentang hal itu.