Banyak orang mengatakan bahwa, semakin besar tantangannya maka semakin besar juga usahanya, Yesa tidak menutupi bahwa dia sempat menyerah, ketika dia melihat ketakutan itu terpancar di wajah Yuna ketika melihatnya.
Yesa mencoba mengingat apa yang pernah dia lakukan kepada Yuna, jawabannya tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang menyakitkan, bahkan Yesa tak pernah mendekati perempuan meskipun banyak orang mengantri untuknya.
Dia juga tidak pernah bicara yang tidak-tidak tentang Yuna, tidak pernah juga membicarakan dia di belakang, selain dia bercerita dengan temannya kalau dia sangat menyukai Yuna.
Setelah bicara panjang lebar dengan Yohan semalam, Yesa akhirnya bertekad, apapun akan dia lakukan untuk kembali bisa dekat dengan Yuna, meskipun harus dibatasi dengan hubungan rekan kerja.
Lagi pula saat ini tujuan Yesa adalah membantu Yuna jadi meskipun hanya sebatas rekan kerja, Yesa sudah cukup.
Mengesampingkan dulu perasaan demi dia. Gila—gue beneran udah gila gara-gara dia.
Ting~!
Pintu lift terbuka, Yesa keluar dari lift tersebut kali ini dia berangkat sendirian, Devan bilang dia ada urusan mendadak dan akan menjemputnya nanti. Bagi Yesa tidak masalah, dia juga tidak masalah harus menyuruh Yohan mengantarnya meskipun gaya menyetir orang itu membuatnya mual sepanjang jalan.
Dibanding Yohan, Devan jauh lebih baik, dari segi menyetir, cara bekerja dan sikap. Kedua orang itu umurnya tidak jauh tapi sifat mereka seakan dua sisi magnet yang bertolak belakang.
“Yesa?” sebuah suara muncul dari belakang yang terkejut melihat Yesa muncul di depan kantor mereka pagi-pagi sekali.
Yesa menoleh ke sumber suara tersebut, ternyata orang yang menyambut dia di hari sebelumnya. “Hmm, Greta kan ya?”
“Ya, saya Greta, ada apa ya? Kesini lagi?”
“Pekerjaan?”
Greta yang sedang membawa 4 gelas kopi di tangannya menghela nafas. “Yuna belum dateng, mungkin setengah jam lagi, dan jam operasional kantor kita itu jam 10, tapi mereka fleksibel untuk datang jam berapa aja. Apalagi dengan kondisi yang kaya gini,” ucap Greta sambil membuka pintu dan membiarkan Yesa masuk ke dalam.
“Hmm, seru juga ya, saya gak sempet liat sekeliling kemarin, ternyata kantor ini bagus juga,” ucap Yesa sambil menoleh ke kanan-kiri.
“Boleh kita bicara, Yesa?”
Yesa berhenti melihat-lihat lalu menatap mata Greta, nada bicaranya berubah, bak seekor rubah yang siap untuk menggigit mangsanya, dan kali ini Yesa sudah masuk ke dalam target sasarannya.