Aroma bergamot yang bercampur dengan wangi lavender dan sedikit wangi tanah yang terbakar, tercium oleh Devan yang berdiri di depan pintu mobil ketika dia membuka pintu dan Yesa keluar dari mobil.
Setiap parfum yang digunakan oleh Yesa memiliki maknanya sendiri, dimana ketika Yesa memakai parfum ini itu berarti dia sedang berburu, ya, beberapa waktu yang lalu ketika akhirnya Yohan menemukan apa yang menjadi pertanyaan Yesa, atmosfer di kantor, di rumah pun berubah.
Awalnya Devan tidak mengerti, meskipun dia sudah bekerja selama 6 tahun untuk Yesa dia tidak tahu apa yang terjadi sekarang kenapa dia harus mengosongkan jadwal Yesa selama seminggu yang kemungkinan akan berlanjut lebih lama lagi dari itu.
“Waktu kita sedikit dan perjalanan kita panjang, ayo Van,” ucap Yesa sambil merapikan jasnya dan berjalan masuk, dengan hembusan angin yang mereka terjang hingga akhirnya wangi parfum itu kembali tercium oleh hidung Devan dan wangi itu tidak terlalu dia sukai, karena terlalu tajam untuknya.
“Bu Rani konfirmasi tadi malam dia bisa ditemui walau tidak bisa terlalu lama karena dia akan pergi siang ini.”
“We can meet her at the airport, to be honest,” ucap Yesa sambil masuk ke dalam lift.
“Well, we can’t. Saya melakukan beberapa riset, perusahaan Bu Rani memang memberikan beberapa investasi kepada beberapa perusahaan dan sepertinya mereka sedang rugi beberapa puluh miliar karena sebuah perusahaan kosmetik, cukup aneh.”
“Kenapa aneh?”
“R Capital, perusahaan Bu Rani selalu dinilai memiliki penilaian yang bagus, mereka memang sudah mendapatkan keuntungan dari investasi sebelumnya, namun tiba-tiba ketika mereka melakukan investasi tambahan, perusahaan tersebut mengalami kerugian bahkan 300%? Perusahaan itu melakukan penipuan atau bagaimana?”
Yesa memberikan tatapan menyeramkan, kenapa menyeramkan karena dia menoleh ke belakang sambil memiringkan kepalanya, dengan wajah datar, alis yang tidak bertaut, mulutnya simetris namun matanya berkedip beberapa kali.
“Am I wrong?”
“Perusahaan yang mengalami penurunan 300% dalam kurun 2 tahun adalah sesuatu yang mencurigakan, valuasi akan turun secara perlahan bukan drastis, itu artinya perusahaan itu memang ada masalah tapi bukan penipuan investasi.”
Devan mengangguk perlahan. “Kalau penipuan, mereka akan segera pergi begitu saja tanpa perlu membiarkan perusahaannya mengalami penurunan.”
Ting~! “We’re here,” ucap Devan.
Mereka berdua keluar dari lift berjalan menyusuri lorong yang masih sepi itu, bagaimana tidak ini masih pukul 7 pagi, masih terlalu pagi untuk kantor yang beroperasi jam 10 pagi, seperti ucapan Yesa, waktu mereka sedikit tapi perjalanan mereka panjang.
Yesa punya daftar, daftar yang cukup spesifik untuk Devan, 3 perusahaan capital yang mendanai perusahaan kosmetik, satu perusahaan yang sama ketika Devan mencari kesamaan diantara ketiganya, muncul sebuah nama YNK Beauty.
Devan membuka pintu ruangan dengan nama Rani Wijaya CEO of R Capital. “Yesa, apa kabar?” sapa Rani dengan tersenyum lebar.
“Hai, Bu Rani,” Yesa duduk di sofa panjang sambil menunggu Rani duduk di hadapannya. “Saya tahu anda sibuk dan saya juga punya perjalanan yang cukup panjang. Jadi—”
Rani mengangkat tangannya menyuruh Yesa untuk berhenti bicara. “Apa saya melakukan kesalahan? Menghalangi LM Grup misalnya?”
“Tidak, justru kedatangan saya hari ini untuk memberikan kompensasi atas kerugian investasi anda.”
“Kompensasi? Investasi? Bukankah kita tidak pernah bekerja sama, tolong jelaskan ini untuk siapa—oh, astaga.”
Yesa mengangguk perlahan mengkonfirmasi tebakan Rani. Devan pun langsung mengeluarkan dokumen yang sudah disiapkan oleh Yesa sebelumnya dan memberikannya ke Rani.
Rani pun membuka dokumen tersebut membacanya dengan cepat hingga sepertinya dia sampai ke titik dimana sebuah cek tertera disana.
“All the investment and the profit?”
“Yeah but only 5 percent is that okay?”
“Well, I got my money back and the profit even if it's not the agreement it’s fine, Tapi satu pertanyaan.”
“Boleh, jika anda memang ada waktu.”
Rani tersenyum. “Kenapa? Kenapa YNK? Kenapa tiba-tiba, jujur aku tidak pernah mendengar soal LM Grup dan YNK pernah bertemu sebelumnya.”
“Memang tidak, we’re just an old friend.”
“Old friend?”
“Ya, kurasa itu cukup untuk menjelaskan semuanya.”
“Oh, satu lagi, jangan biarkan mereka YNK tahu soal LM Grup yang—melakukan ini semua.”
“Well, kamu tahu sendiri Yesa, kita berada di dunia yang mungkin untuk menyembunyikan sesuatu adalah hal yang tidak mungkin, cepat atau lambat akan diketahui, even YNK isn’t IPO yet.”
Yesa terdiam sambil melihat Rina yang menandatangani dokumen yang mereka bawa, Devan tahu mereka harus bergerak dengan cepat sebelum berita ini sampai kemana-mana karena itu mereka harus menyelesaikannya dalam satu hari.
“That’s why I have to finish it in one day.”
Rina terdiam, dia terlihat terkejut sampai berhenti menggores pulpennya ke kertas, mengangkat wajahnya melihat Yesa yang berada di depannya dengan tatapan dari sudut mata bawahnya. Menyeramkan.
“3 investor besar YNK, dengan total investasi hampir 15 miliar? LM Grup memang sebesar itu tapi—”
“Ini tidak ada hubungannya dengan LM Grup.”