Yesa turun dari mobil, Yuna pun tak lama juga sampai, sedangkan yang lain ternyata yang lain masih menunggu mereka di lobby. Devan mengangguk pada Yesa. “Kenapa masih disini?”
“Yang lain nunggu Bu Yuna, saya nunggu Pak Jesse belum keliatan.”
“Oh—” ucap Yesa sambil melihat sekeliling, lalu dia tersenyum lebar ketika melihat lift terbuka, seorang perempuan berambut panjang memakai rok coklat dan kemeja putih tak lupa sepatu sneakersnya keluar bersama Jesse.
Perempuan itu tersenyum dan melambaikan tangan lalu berteriak. “Kak Yesa!” teriaknya sambil berlari lalu memeluk Yesa, hingga Yesa bisa menggendongnya dan memutar tubuhnya baru menurunkannya lagi.
“Kamu dikasih makan apa sama Jesse berat banget sekarang,” ucap Yesa sambil mengelus kepala perempuan itu.
“Minta di pukul dia. Oh–halo Devan,” sapanya pada Devan.
“Halo Mbak Lexa.”
“Ayo Van, kita ke dalem, biar Kak Yesa ngobrol sama Jesse dulu.”
“Baik.”
“Mari temen-temen dari YNK makanannya sudah siap, nanti masih ada yang akan masuk lagi, jadi jangan terlalu kenyang dan nanti kalau sisa bisa di bawa pulang,” ucap Alexa sambil jalan membawa mereka semua.
Yesa tersenyum melihat Alexa yang pintar mengubah suasana, tapi hatinya lebih tersenyum lagi ketika melihat Yuna yang seakan bertanya-tanya, siapa perempuan itu, ya Yesa tak pernah menceritakan apapun tentang Alexa.
Yuna tahu bahwa Yohan punya sahabat perempuan yang dekat juga dengannya, tapi Yuna tak pernah tahu bagaimana wajah perempuan itu. Merasa sedikit ada kemenangan Yesa tersenyum.
Namun, Jesse menepuk lengannya, membawanya kembali ke kenyataan. “Jangan memikirkan sesuatu yang mungkin menurut lo menyenangkan ya.”
“Bisa gak sih lo biarin gue seneng dikit aja, heran,” ucap Yesa.
“Emang tahan mencoba pura-pura gak peduli? Atau mau pake siasaat gue sama Alex dulu buat Yohan?”
“Bikin skandal maksudnya? Sampe rame di internasional?”
“Kenapa gak?”
Yesa menggelengkan kepalanya sambil berjalan. “Kebanyakan main sama Yohan lo ya? Inget kata-kata Lexa, jangan kebanyakan mabok biar gak goblok.”
“Iya kali ya, gue kebanyakan gaul sama adek lo nih. By the way, lo beneran gambling?” tanya Jesse sambil melihat karyawan YNK yang saling menghibur satu sama lain di ballroom sambil makan.
“Apapun Jes, apapun bakal gue lakuin demi bantu dia dan dapetin dia lagi.”
“It’s never easy in the first place. She’s like she’s going through enough.”
“She is. I think she still has that fear of flying.”
“Maksudnya?”
“Dia punya trauma naik pesawat, orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat.”
“Oh my…. Then goodluck.”
Jesse menjemput Alexa yang mulai menggila di pesta orang lain, tak lupa Alexa memeluk Yesa lagi sebelum akhirnya pergi meninggalkan Yesa dan YNK disana. Dia mengambil minum dan pergi ke balkon untuk mencari udara segar.
Seperti biasa, Greta tiba-tiba muncul di sampingnya untuk bicara. Yesa tak mengerti kenapa orang ini selalu saja mencoba mencari banyak informasi darinya, termasuk melihatnya di depan pintu lift.
Apa Greta adalah orang yang seharusnya dia waspadai, itulah yang dia pikirkan karena memang dia tinggal menunggu bukti siapa yang melakukan pengkhianatan di YNK.
“Mau ngomongin apa kali ini?” tanya Yesa.
“Soal efisiensi karyawan,” ucap Greta.
“Bos lo mungkin gak akan mau, tapi gimana caranya? Uang dari gue mungkin terlihat besar, tapi tanpa penekanan pengeluaran percuma.”