Selama Devan ikut kerja dengan Yesa baru kali ini rekor Yesa masuk ke rumah sakit kurang dari seminggu, baru beberapa hari yang lalu dia masuk ke rumah sakit karena demam, padahal Dokter sudah menyuruh dia untuk istirahat setidaknya semalam tapi orang ini justru pergi setelah infusnya habis, dan kali ini dia sendiri yang meminta untuk di bawa ke rumah sakit.
“Pak, hari ini jangan cuma nunggu infus habis ya.”
“Hmm.”
Hanya itu jawaban dari Yesa dan kembali memejamkan matanya sambil dokter membersihkan luka di tangannya. Tidak cukup serius tapi mengingat duri dari mawar itu cukup panjang dokter harus hati-hati mencabut dan membersihkan lukanya.
Kali ini Devan melihat bagaimana bosnya sebagai manusia yang sebenarnya, dia melihat bagaimana Yesa hanya terdiam, sesekali merintih kesakitan karena duri yang menancap di telapak tangannya.
Entah apa yang dibicarakan kedua orang itu di balkon tapi melihat raut wajah Yuna yang setengah kesal dan setengah menyesal. Keadaan mereka berdua sepertinya jauh dari kata rumit, ini lebih parah dari yang dia pikirkan.
“Lukanya sudah selesai dibersihkan ya pak, kami permisi dulu.”
“Terima kasih, Dok.”
Devan mengantar dokter keluar dan dia agak sedikit terkejut melihat ada Geordy menunggu di depan kamar rawat. “Pak Yesa yang telfon apa gimana?” tanya Devan.
Geordy menggelengkan kepalanya. “Dia kan bilang secepet gue bisa, dia di dalem?”
“Ya, tapi lagi gak enak badan dia, kayaknya tidur.”
“Dia pasti melek kalau denger ini,” ucap Geordy sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
“Pak Yesa ada Geordy,” ucap Devan.
Benar kata Geordy, Yesa langsung bangun dan turun dari tempat tidur, dia mendorong sendiri tiang infusnya dan duduk di sofa, mereka bertiga akhirnya duduk disana sambil menunggu si PI gadungan ini untuk memberikan informasi yang diinginkan.
Ya bagi Devan Geordy tak lebih dari P.I gadungan yang menarik keuntungan dari para keluarga Konglo untuk mencari kelemahan dari para lawan bisnisnya, tapi yang membuat Devan lucu adalah, Geordy tidak menerima jika harus mencari kelemahan dari keluarga Lesmana.
“Waktu itu lo bilang, agak ragu sama pabrik yang dipake sama YN kan?”
“Hmm, bisa langsung aja gak? Kepala gue pusing banget soalnya.”
Geordy justru menoleh ke arah Devan. “Sejak kapan ini manusia sakit? Bisa sakit juga dia?”
“Mending to the point deh, dari pada di gebrak dia,” saut Devan.
“Oke, oke, ada beberapa poin yang bakal gue highlight disini, ada seseorang yang sabotase peluncuran produk dari YNK. Tapi ini bukan dari pabrik, pabrik itu ada masalahnya sendiri. Secara legal kita bisa seret dia.”
“Ada yang jual ingredients atau jual Rencana Kerja?”
“Dua-duanya,” ucap Geordy sambil membuka satu file dan mendorongnya ke Yesa. “Penurunan perusahaan YNK bermula dari 2 tahun lalu, dan sebelum itu, ada sebuah brand besar China yang dateng ke YN.”
“Oh saya tahu itu, kalau gak salah mereka pengen YN ekspansi ke China bareng mereka kan?” ucap Devan.