Yuna sekali lagi menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia keluar dari apartemennya, pesan dari Devan tidak menunjukan apa-apa semalam, bahkan hari ini seperti tidak ada tanda-tanda dia akan bertemu dengan Yesa di parkiran.
Unit di lantai 20 sampai 22 memiliki wilayah parkir yang sama, jadi seharusnya mereka bisa saja bertemu tapi Yuna tidak melihat mobil BMW ataupun mobil range rover yang dipakai oleh Yesa.
Tapi justru ada sebuah mobil Mazda putih yang terparkir di tempat parkir milik Yesa, alarm mobil itu menyala, Yuna menoleh ke kanan-kiri untuk melihat siapa yang menyalakannya, ternyata itu adalah Yohan.
Yohan tinggal disini juga?
“Oh, kak Yuna!” seru Yohan ketika melihat Yuna berdiri di depan mobilnya.
“Kamu tinggal disini juga?”
Namun Yohan justru menggelengkan kepalanya, dia mengangkat tas gym yang bawa di tangan kirinya. “Ini apartemen kakak, aku cuma kadang suka nginep aja disini kalau males pulang, karena ini deket dari kantor.”
Yuna mengangguk. “Oh iya sih, kamu deket ya sama TS Grup?”
“TS Hotel punya Jesse?”
Yuna hanya mengangguk.
“Yang aku tahu, waktu TS mau buka disini, LM salah satu rekan branch mungkin punya saham juga kayaknya. Aku juga gak begitu ngerti sih kak, karena aku gak ngurus itu, yang ngurus kakak, aku cuma bagian muter-muter di kantor.”
“Kamu pinter kakak tahu, kamu bisnis analis LM kan?” Yuna memastikan.
“Memang, tapi gak bisa ngalahin insting Devan. Insting Devan tuh jauh di atas rata-rata. Aku duluan ya kak, bye!”
Yohan melambaikan tangannya dan pergi dengan mobilnya, sedangkan Yuna terdiam sebentar lalu berjalan menuju mobilnya. Apa yang diucapkan oleh Yohan ada benarnya. Karena bagaimana tidak, Devan mungkin memiliki jabatan sebagai sekretaris Yesa. Tapi dari rumor yang dia dengar, Devan jauh dari itu, tidak hanya sebagai sekretaris tapi Devan mengurus seluruh jalannya perusahaan dan keluarga Lesmana.
Bukan tidak berarti, nanti meskipun Devan terlihat memberinya informasi juga akan menyelidikinya.
Seharusnya semuanya aman, semuanya tidak akan terbongkar, sekuat apapun keluarga Lesmana mungkin tidak akan mengetahui tentang apa yang terjadi. Jika mereka tahu, Yuna tidak tahu harus berbuat apa, dia tidak bisa mengelak tidak bisa membantah, dia harus menjelaskan dan memberitahunya apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.
Jujur saja bagi Yuna itu tidaklah sebuah hal yang mudah.
Untuk menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
Alasan mengapa Yuna menghilang begitu saja.
Yuna memarkirkan mobilnya dan keluar, dan ketika dia menunggu lift di basement, dia merasakan ada orang dibelakangnya, Yuna perlahan menoleh melihat Devan dan Yesa ada disana.
Dilihatnya Yesa memasukkan tangannya ke saku, hari ini dia hanya memakai kemeja biru gelap dengan celana hitam dan sepatu putih yang biasa dia gunakan setiap hari.
Devan menunduk kecil menyapanya. “Pagi Bu Yuna.”