“Ayo balik,” ucap Yuna sambil menggaruk dagunya seperti waktu dulu mereka masih SMA, hal yang membuat Yesa terkejut.
Tak pernah terbayang dalam benak Yesa kalau Yuna akan setuju untuk mengubah cara bicaranya, tapi tak lebih terbayangkan bahwa dia akan kembali melakukan kebiasaan yang dulu.
Mungkin terlihat seperti sinyal yang bagus tapi kata-kata itu. Investasi ini jangan diketahui media.
Entah kenapa dalam hati Yesa kata-kata itu bukan hanya sekedar dia takut citra LM Grup atau keluarga Lesmana menjadi menurun tapi seperti ada hal lain, yang membuat Yuna menolak hal ini diberitakan kepada banyak orang.
Yesa sudah mengerti situasinya, dia sudah paham resikonya, dan mengerti apa yang akan dia hadapi jika hal ini gagal, mungkin suksesinya tidak akan berjalan mulus, mungkin mereka akan memiliki alasan yang lebih untuk menurunkan dia dari jabatan COO.
Yesa sudah mengorbankan banyak hal jauh dari pada yang di ketahui orang banyak, tapi bagi Yesa demi berada disamping Yuna hal itu pun rela dia lakukan. Dia tidak mau lagi terpisah dan kehilangan momen berharga yang dia miliki.
Memiliki Yuna dihidupnya, bisa membuatnya jauh lebih baik dan jauh lebih rileks, setelah semua hal yang terjadi di hidupnya belakangan ini, suksesi yang cukup melelahkan, proyek yang begitu banyaknya, bermain di YNK dan mencoba untuk mereka adalah liburan bagi Yesa.
Dan semua hal yang terjadi mulai hari ini adalah bonus untuknya.
“Sa,” panggil Yuna sebelum lift mereka sampai di lantai YNK.
“Hmm kenapa?”
“Soal tangan kamu maaf ya, aku gak tahu kalau mawar kemarin masih ada durinya.”
Yesa mengangkat tangannya dan melihat telapak tangannya yang diperban. “Gak papa, santai, gak sakit kok. Devan juga ngasih tahu kamu kan?”
“Jangan marahin dia, aku tahu gara-gara Pamela, dia liat kamu nyuci tangan berdarah di kamar mandi, gak sengaja keliatan katanya.”
“Hmm, aku gak marahin Devan kok,” ucap Yesa sambil mengelus kepala Yuna.