His Obsessions, Her Home

Ang.Rose
Chapter #17

The situation is not getting cold

Menerima kartu akses untuk masuk ke ruang meeting terlebih dahulu, tak lain dan bukan hanya untuk mengganti barang itu, hal seperti ini terjadi bukanlah karena kebetulan, kemarin mereka sudah mendengar bahwa ada yang bermain dengan pabrik, termasuk harga yang melonjak, karena itu sudah pasti ini adalah serangan.

Mereka harus mendengarkan hal ini. Ponselnya bergetar, Devan melihat pesan yang muncul dari Geordy.

Geordy: Ada trouble ya di pabrik?

Devan: Kok tahu?

Geordy: hmm, ada info dari orang gue, mesin yang buat produk YNK udah jalan 2rb produk di henti pasak, dan mesin jalan ulang untuk 5rb produk.

Devan: wah, cocok berarti 7rb per jenis.

Geordy: Main aman aja, jangan buka kartu dulu, bukti kita belum banyak, tunjukin aja chat gue dia pasti ngerti.

Devan: Ok.

Satu persatu orang pun akhirnya datang dan duduk di tempatnya masing-masing. Devan duduk bersebrangan dengan para direksi yang lain. Butuh waktu beberapa menit sampai akhirnya Yesa dan Yuna pun datang, seperti permintaan Geordy, dia menunjukkan pesan itu pada Yesa.

Yang dilakukan Yesa adalah, mengangguk perlahan. Selesai udah. Mata pemburu Yesa sudah keluar, mata yang selalu keluar ketika dia sudah tahu apa yang akan dan harus dia lakukan. Apa yang harus dia lakukan akan anjing pencuri yang liar itu melakukan kesalahan tepat di depan matanya.

Yesa bak seekor serigala yang berbulu domba. Orang yang bisa bersikap tenang dan baik, bahkan terlalu baik untuk orang yang baru dia kenal, Yesa hanya menunjukkan dirinya yang sebenarnya kepada orang-orang yang dia percayai. Jika Yesa menunjukkan sifat aslinya itu artinya dia mempercayai orang itu.

Devan memang tahu sifat asli Yesa, tapi dia tidak pernah selalu menunjukkannya, karena mau bagaimana pun juga, Yesa selalu menjaga wibawanya, hanya Yohan yang tak pernah menjaga wibawanya.

Karakter Serigala berbulu domba itu seakan sudah menjadi hal yang lumrah untuk Lesmana bersaudara.

Jika, Yesa selalu tersenyum dengan hangat dan mendengarkan semua orang, sedangkan Yohan dengan sifat nyeleneh dan santai bahkan pemabuk. Dibalik itu mereka bisa menilai, memprediksi apa yang lawannya lakukan dan menyerang disaat yang tidak di duga, karena itu Devam tidak pernah menganggap remeh apapun yang dilakukan dua bersaudara itu.

Karakter keduanya, tenang bagai air sungai namun ternyata memiliki arus yang deras. Terlihat hanya sekedar tahu, tapi sebenarnya sudah memegang seluruh kartu yang mereka butuhkan.

Semacam orang yang sedang bermain poker, dan kali ini Devan melihat permainan psikologi poker di dunia nyata. Membuat celah berulang kali, membuat lawannya merasa diatas angin dan merasa unggul barulah dia, menggigit lawannya dengan sempurna.

Jadi, siapa yang akan kalah di pertandingan kali ini? Yesa punya royal flush, lawan? Kita gak tahu apa-apa dan pasti inilah yang buat manusia ini senang.

“Kontrak dengan pabrik bagaimana?” Yesa memulai meeting hari itu.

“Kontrak dengan pabrik itu adalah 5 ribu produk untuk 3 jenis produk kami, itu artinya 15 ribu produk. Kalau sekarang 7 ribu produk berarti kita punya 21 ribu produk,” ucap Jecklyn.

“Berarti kita punya stok mati 6 ribuan produk,” sambung Yuna.

“Apa mereka menjelaskan soal kelebihan produksi itu?”

Lihat selengkapnya