Mereka pun kembali ke mobil Devan menyetir, Yesa duduk di kursi penumpang depan, Jecklyn dan Yuna di belakang. Sebelum pergi Devan membuka tas dan memberikan dua bungkus plastik kecil kepada Yesa.
Tanpa banyak bicara, Yesa mengambil plastik tersebut, mengeluarkan obat yang harus dia minum dan meminumnya, namun Yuna menahan tangannya sebelum dia memasukkan obat itu ke dalam mulutnya.
Yuna hanya melihat hal itu terjadi di depannya, fokusnya kini ada pada kejadian yang baru dia saksikan, bahwa pabriknya ternyata sudah membohonginya, harga yang dia bilang paling murah ternyata adalah harga yang lebih mahal dari yang seharusnya.
Mungkin ini semua memang atas dasar kepercayaan, dia tidak meminta Jecklyn untuk memeriksa pabrik lain, apalagi klien dari pabrik tersebut memang juga banyak.
Jecklyn hanya menatap keluar jendela, Yuna juga menyadari bahwa Jecklyn tidak dalam kondisi terbaiknya, Jeje tak pernah menunjukan kesulitannya namun bukan juga berarti tidak terlihat oleh Yuna.
Yuna mencolek lengan Jecklyn dan tersenyum padanya, dan orang itu pun tersenyum balik ke Yuna.
Dia pun baru menyadari kalau ternyata Yesa tertidur di depan, perjalanan pun tidak terlalu panjang dan lama karena jalan belum terlalu macet. Yuna tahu dia harus mempercayai Yesa untuk saat ini, permintaannya hanya kerja sama mereka tidak diketahui oleh orang-orang.
Masih ada hal yang tidak diketahui bahkan oleh sahabat-sahabatnya sendiri, itulah mengapa Yuna bahkan tidak ingin orang-orang tahu bahwa ada dia di balik YNK.
Mereka pun sampai di kantor, Devan memarkir mobil di dekat mobil Yuna. Jecklyn yang baru saja turun dari mobil tak sengaja melihat ban mobil Yuna. “Yun,” panggil Jecklyn.
“Kenapa Je?”
“Coba ini liat ban mobil lo, kempes nih,” ucap Jecklyn sambil menunjuk ban mobil Yuna.
Yuna pun memutar ke arah mobilnya, Devan berdiri di depannya dan melihat ban lebih dulu ternyata bannya di tusuk oleh sesuatu yang tajam seperti pisau lipat. “Ini bukan kempes, ada yang nusuk pake pisau, kalau dari diameternya ini kayaknya pisau lipat deh.”
Mendengar hal itu, Yuna langsung terdiam, dia mencoba mengambil nafas beberapa kali mencoba untuk bertahan dan mengatakan pada diri sendiri ini bukan apa-apa.
Ini bukan hal yang serius, mungkin ini adalah ulang dari lawan bisnis bukan seperti yang dia pikirkan.
Gak, bukan pasti bukan itu.
“Kok bisa sih? Gue tanya security ya,” ucap Jecklyn memecah keheningan.
“Je udah Je, biarin aja gak papa biarin aja.”
“Kok biarin? Kalau kaya gini kejadian lagi gimana?”
Yuna menggelengkan kepalanya. “Enggak, gak akan terjadi lagi,” Yuna perlahan berbalik dan menatap Yesa.
Tatapan yang entah mengapa Yuna keluarkan saat itu. Tatapan meminta tolong bahwa dia tidak bisa menghadapi ini sendirian, dia sudah tidak bisa sendirian. Seakan mengerti, Yesa menggenggam tangan Yuna.
“Van, urus mobil Nana ya, tanya juga security cek apa keliatan CCTV atau gak.”
“Tapi bapak baru minum obat.”
“Gue udah cukup tidur kok tenang lagi pula deket ini. Mana kunci?”
Devan merogoh kantong celananya lalu memberikan kunci namun sebelum dia benar-benar melepaskan kunci itu pada Yesa, Devan kembali mengingatkan, “pulang ke apart aja ya pak, besok saya jemput di apart.”
“Please lah, jangan di denger orang kaya lo pacar gue anjir, jijik gue.”
“Ye, serius pak.”
“Iya tahu, mana sini.”
Devan pun memberikan kunci mobil itu pada Yesa. “Hati-hati.”
“Hmm, ayo Na masuk.”
Yuna mengangguk. “Je gue duluan ya.”
“Hmm, tenang aja. Pulang aja, pucet lo soalnya.”
***
Yesa masih memegang tangan Yuna sambil keluar dari lift, sampai di depan unit milik Yuna, Yesa melepaskan tangannya dari tangan Yuna. “Kamu istirahat aja ya nanti malem aku balik lagi.”