Bukan sebuah kesengajaan, semalam Yesa bertekad untuk menunggunya hingga dia tertidur, Yuna pikir dia akan terbangun begitu Yesa tak ada lagi disampingnya, namun ternyata—tidak. Dia tetap terlelap hingga alarm dari ponsel membangunkannya.
Yuna keluar dari kamarnya, apartemennya sudah bersih dan Yesa tak ada disana. Di satu sisi Yuna sedikit takut dengan situasi saat ini, mungkin memang dia sudah meminta Yesa untuk tidak memberitahu media, tapi namanya Yesa dan LM Grup cukup besar sehingga mau tak mau, cepat atau lambat berita ini akan tercium.
Perasaan gelisah itu perlahan-lahan mulai memakan Yuna, perasaan dingin yang tiba-tiba muncul di hatinya, tangan yang mulai dingin, hal itu benar-benar dia rasakan sekarang.
Situasi mengenai ban mobilnya dia yakin itu bukan hanya sekedar kempes biasa. Tapi, apakah itu kebetulan? Mungkin memang kebetulan, atau memang siapapun itu, dia sudah tahu bahwa dia kembali dekat dengan Yesa.
Devan juga tidak menjelaskan apa yang tertangkap CCTV. Dia tidak mempermasalahkan tentang mobilnya, kalau memang itu ulang orang iseng, tapi jika apa yang dia takutkan benar terjadi, itulah yang dia takutkan, itulah yang dia hindari dan tidak mau terjadi padanya.
Yuna menekan tombol lift turun, dia sudah lama tinggal di apartemen ini, yang dia beli menggunakan nama tantenya, dia tidak memiliki aset properti apapun atas namanya, karena takut hal itu terjadi lagi.
Sang Om pun bersusah payah untuk menutup jejaknya agar hal itu tidak terjadi lagi, bahkan menghentikan penyelidikan agar situasinya terkendali. Tapi tetap saja, Yuna terkadang tetap ketakutan, meski hal itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya, meskipun sekarang sudah tidak pernah lagi ada gangguan.
Ting~!
Pintu lift terbuka, Yuna melihat dua orang yang wajahnya begitu seimbang, begitu setara, tinggi mereka pun bersaing. Jika pada awalnya ketika Yuna menatap wajahnya dia begitu ketakutan, gelisah dan ingin cepat-cepat menjauh, kali ini Yuna perlahan-lahan mulai tersenyum.
Dia tersenyum dan merasa tenang melihat Yesa di depannya. Keberadaannya bisa gapai kapanpun dia mau, dan Yuna mulai menyadari bahwa inilah yang sebenarnya dia butuhkan, ini yang dia rindukan, keberadaan Yesa di sisinya dan ketenangan yang dia berikan.
“Pagi cantik,” sapa Yesa dengan nada menggoda.
“Pagi Sasa. Pergi sama Devan?”
“Saya? Enggak Bu, saya jadi supir ibu hari ini, Pak Yesa punya sekretaris lain kok."
“Oh, tapi saya gak nanya kamu Van, saya nanya ke Yesa,” ucap Yuna sambil tersenyum kecil.
Terlihat Yesa memicingkan matanya melihat Devan kesal. “Gue yang disapa lo main sabet aja heran.”
“Ya maaf pak, gak biasanya soalnya.”
Yesa melengos tak melanjutkan pembicaraannya dengan Devan, dia menarik tangan Yuna untuk menggenggamnya, Yuna pun menyambut genggaman itu. “Malem pulang kemana?” tanya Yuna.
“Aku balik ke rumah dulu hari ini, mungkin besok. Kenapa?”
“Gak papa, kalau gitu besok malem aja kita makan malem bareng.”
Devan mendengar hal itu tidak percaya apa yang terjadi semalam hingga mereka bisa berubah sejauh ini.
“Oke.”
Pintu lift sudah terbuka di basement. Yesa ikut mengantar Yuna sampai ke mobilnya, dia membuka tangannya meminta Yuna untuk masuk ke dalam pelukannya sebelum mereka berpisah.
Yuna pun memeluk Yesa dengan sukarela bahkan wajahnya tersenyum lebar karena hal ini dia nantikan, meskipun dia pun sadar tidak hanya dia yang menantikan hal ini namun Yesa juga.
Yesa menantikan Yuna dengan sukarela masuk ke dalam pelukannya.
“Hati-hati ya nyetirnya, telfon aku kalau ada waktu,” ujar Yuna pada Yesa.
“Bisa gak kita nikah aja besok?”
Plak~! Yuna memukul punggung Yesa lalu melepaskan pelukannya. “Pacaran aja nggak pengen nikah.”
“Ya gak papa dong.”
“Udah aku pergi dulu, udah telat.”
“Hmm,” Yesa membuka pintu mobil untuk Yuna sebelum menutup kembali pintu tersebut, Yesa mencium kening Yuna. “Hati-hati ya.”
Pintu mobil tertutup Devan pun melajukan mobil dengan hati-hati Yuna bisa melihat dari kaca spion Yesa masih disana hingga mobilnya mulai meninggalkan basement dan Yesa tak terlihat lagi.
Yuna menatap jalan dan Devan secara bergantian, jika bukan karena Yesa dia mungkin tidak akan pernah merasakan duduk di kursi penumpang dengan supir. Padahal Devan bukanlah supir Yesa.
“Kenapa Bu? Kalau mau nanya, tanya aja.”
“Van, kamu kenapa harus nemenin saya? Bukannya biasanya kamu selalu bareng Yesa?”
“Pak Yesa sekretarisnya bukan cuma saya bu, ada 3 lagi. Walau memang tugas dan fungsinya berbeda, dan saya memang yang hampir 24 jam sama Pak Yesa.”
“Terus kamu sama saya gak masalah? Pak Hadi gimana?”
“Bapak mah gak ada urusan sama divisi secretary Pak Yesa bu, karena tim ini, tim bentukan pak Yesa sendiri.”
“Oh ya?”
“Hmm, panjang bu kalau diceritain.”
“Hmm…. Van, soal mobil.”
“Pak Yesa yang nanggung biayanya bu, tenang aja.”
“Ya astaga, perusahaan saya yang mau bangkrut Van, bukan saya.”
“Oh, ibu mau tanya soal CCTV?” tebak Devan, karena apa lagi jika bukan itu.
“Iya, gimana keliatan siapa yang ngerusakin ban mobil saya?”
Mobil yang dikendarai Devan berhenti perlahan, ada lampu merah di depan sebelum akhirnya mereka belok ke kanan dan masuk ke gedung perkantoran dimana YNK berada.
“Jujur bu, karena yang di serang ban belakang sebelah kanan jadi gak keliatan, sempet di coba untuk liat dari angle lain dan yang keliatan cuma orangnya gak terlalu tinggi gak keliatan juga laki atau perempuan karena pake hoodie hitam, kuplukkan, tersus pakai masker.”
“Yesa tahu?”
“Tahu Bu, makanya saya disuruh jagain ibu sementara ini. Bu maaf kalau lancang, tapi ibu selama buat YNK pernah ada musuh gak?”
“Kalau soal musuh sih pasti ada aja ya Van, gak mungkin enggak, ada aja yang suka sama brand kita. Tapi kalau soal ini entah kenapa saya agak skeptis bukan soal musuh YNK. Karena kalau kamu sadar….”
“Ya, saya dan Pak Yesa tahu kepemilikan YNK bukan atas nama Ibu. Termasuk dengan apartemen yang ibu tempati sekarang.”
Yuna mengangguk perlahan, bersamaan dengan mobil yang sudah selesai terparkir, Devan keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang, menunggu Yuna keluar dan pergi mengantarnya sampai ke lobby kantor.
“Ibu udah sampai, saya pergi dulu sebentar ya bu, nanti saya balik lagi, mungkin setelah makan siang, kalau mau kemana-mana tolong info saya.”
“Oke Van, makasih.”
“Sama-sama bu. Senang bisa membantu.”