Nana~ maaf aku gak bisa pulang lagi, maaf banget, besok aku janji besok.
Itulah pesan Yesa beberapa hari terakhir, sudah 4 hari Yesa tidak kunjung datang, Devan sempat mengabari 2 hari yang lalu kalau Direksi di LM sedang membutuhkan Yesa entah untuk apa, Yuna juga tidak bertanya karena pasti itu adalah rahasia perusahaan.
Hari ini adalah hari pemotretan produk, seperti biasa yang melakukannya adalah fotografer terkenal Hyuning, teman Greta. Tapi yang membuat Yuna cemas adalah ini sudah 4 hari Jecklyn tak kunjung terlihat juga di kantor. Greta sudah mencoba menghubunginya katanya hari ini dia akan datang.
Produk sudah datang tadi malam, setelah selesai di foto akan dikirim ke beauty influencer yang sudah kontrak dengan mereka, dan besok masa PO akan dibuka.
Keinginan Yuna adalah Yesa ada disini, disampingnya ketika masa Pre Order di buka, karena hal ini tidak akan terjadi jika bukan karena dia, dan Yuna ingin berterima kasih secara langsung, walaupun meminta Yesa datang masih agak gengsi untuknya.
“Halo, Karina,” sapa Hyuning. Orang ini selalu menyapa Yuna dengan nama belakangnya, kata dia itu adalah hal yang spesial untuknya.
“Halo, maaf ya mendadak, gak ada kerjaan kan?”
“Ada, tapi semua aku tunda aku ke sini dulu, ini untuk besok?”
“Iya untuk besok. Maaf banget jadi bikin jadwal kamu berantakan.”
“Untuk Karina aku akan selalu usahain, produknya gak banyak, fotonya bisa selesai 3 jaman, nanti biar tim aku langsung edit.”
Yuna tersenyum lebar mendengar hal itu. “Thank you. Silakan aku gak akan ganggu.”
Berulang kali Yuna melihat ponsel mengira bahwa akan ada pesan singkat atau apapun yang datang untuknya, karena hari ini belum ada pesan apapun baik itu dari Yesa atau dari Devan.
Sumpah ya, beneran kalau hari ini gak ada kabar gak akan gue nanyain lagi.
Yuna memasukan ponselnya ke tas dan kembali melihat Hyuning bekerja dengan kameranya, sejak dulu Yuna selalu menyukai karya orang ini, Hyuning pernah memintanya untuk menjadi model untuk pameran portrait miliknya namun Yuna menolak. Dia hanya tidak mau keberadaannya diketahui orang lain.
3 jam berlalu dan akhirnya mereka selesai melakukan pemotretan, sebenarnya foto ini hanya untuk foto e-commerce dan juga untuk instagram, meskipun begitu Hyuning tetap menerima permintaan Yuna, dan tidak perlu mencantumkan namanya.
“Aku sempet denger perusahaan kamu mau bangkrut, bener?”
Yuna mengangguk sambil memberi ruang Hyuning untuk duduk di sebelahnya. “Iya, tapi untuk kita dapet investor di detik-detik terakhir.”
“Oh ya? Untung banget dong. Dari siapa? Boleh tahu kah?”
“LM Grup. Yesa Lesmana.”
“Oh kakaknya Yohan?”
“Loh kamu kenal Yohan?”
Hyuning mengangguk antusias. “Temen minum aku dulu di klubnya Adel.”
“Ternyata circle kita sempit juga ya.”
“Kamu kenal sama Yesa darimana?”
“Dulu kita temen SMA. Aku gak tahu gimana caranya dia tahu, tapi dia bener-bener dateng disaat yang tepat sih, makanya aku bisa bertahan sekarang.”
“Ah, itu ternyata maksudnya” Hyuning tersenyum seakan dia mengingat sesuatu.
“Kenapa?”
“Gak papa aku pernah denger aja, si manusia itu nyari-nyari orang aku gak tahu kalau yang di cari kamu, kalau aku tahu aku bilangin dari lama.”
“Maksudnya?”
“Gak papa cuma yang aku tahu, Yohan nyariin orang sejak lama, dan buat Yohan itu kaya misi pribadi dia, dan sekarang make sense aja buat aku kalau kamu orangnya.”
“Enggak mungkin lah, siapa juga aku.”
Hyuning mengelus kepala Yuna. “Iya kah? Dah ya aku bantuin timku dulu biar cepet selesai, tuh ada yang dateng.”
Yuna menoleh kebelakang ke arah yang ditunjuk oleh Hyuning, perempuan tinggi dengan rambut yang di kepang daun memakai kaos hitam dan celana kargo coklat itu tersenyum sambil mengangkat tangannya yang membawa kopi.
“Nih, kopi,” ucap Jecklyn pada Yuna. “Udah selesai ya?”
“Hmm, udah beres, lagi diedit sama Hyuning.”
“Hmm oke.”
Keheningan merangkak masuk ke dalam percakapan mereka berdua hingga akhirnya Jecklyn memulai kembali percakapan itu. “Yun, maaf ya, gue gak tahu soal harga itu.”