His Obsessions, Her Home

Ang.Rose
Chapter #22

Counting On

Yesa duduk di kursi kebanggannya, pikirannya masih terus berputar kesana-kemari, bagaimana tidak, dia belum juga selesai melakukan suksesi ada saja masalah yang terjadi dan kali ini bukan adiknya yang membuat onar, tapi ada saja masalah yang terjadi.

Seharusnya, Devan bisa pergi untuk menjaga Yuna tapi justru tidak bisa, Devan harus terus berada dikantor dan meninggalkan Yuna tanpa pengawasan. Masih ada sedikit ketakutan di diri Yesa jika Yuna mendadak menghilang lagi.

Hari-hari ini terlalu aneh memang. Tring~! Telfon internal berbunyi Yesa segera mengangkat panggilan tersebut suara salah satu sekretarisnya terdengar. “Pak, ada yang mau ketemu.”

“Siapa?”

“Gue,” belum Briana sempat menjawab, orang itu sudah dengan tidak sopan membuka pintu ruangannya dan yang di kesalkan oleh Yesa adalah, bagaimana caranya orang ini bisa bebas masuk ke lantai ini.

“Benci banget gue sama lo, kok bisa-bisanya lo kesini? Gak ngabarin juga.”

“Harus banget? Kan gue bukan karyawan lo,” ucapnya sambil menutup pintu.

“Ya iya, tapi gue bayar jasa lo.”

“Iya juga sih. Maaf lah kalau gitu,” ucapan maafnya tidak terdengar tulus bahkan terdengar sarkas untuk Yesa.

Geordy duduk di sofa sambil melihat ke kanan dan kiri, entah mencari apa, tapi dia seakan menunggu seseorang. “Nyari apaan lo?”

“Devan mana?”

“Ya mana gue tahu, turun kali ambil makan, lo mau ketemu dia atau ketemu gue?”

“Lo berdua kalau bisa, gue pengen ngomong sama kalian berdua sih.”

“Soal apa?”

“Soal menghilangnya Yuna Karina? Sebelum lo marah, gue bukannya bergerak semau gue ya, Devan minta tolong ke gue, buat gue itu make sense aja—orang sipil, kok bisa seakan menghilang tanpa jejak.”

“Maksud lo?”

“Sabar, tunggu Devan, oke?”

“Sialan, ikut campur apa lagi dia?”

“Eh, kalau gak gara-gara dia gue gak akan tahu soal ini dan gak akan kepikiran sampe kesana juga.”

Yesa terdiam, ya terkadang memang Devan memiliki intuisi yang jauh diatas rata-rata, mereka sudah bekerja sejak lama dan penilaianya ketika dia masih dibangku kuliah saja sudah menakjubkan untuk Yesa, karena itu Yesa tidak mau kehilangan bibit unggul.

Tak lama Devan pun muncul di ruangan Yesa, dengan tatapan yang tak pernah dia lihat lagi sejak lama, tatapan Devan yang gelisah dan takut karena melakukan kesalahan. Yesa ingat ketika pertama kali Devan membuat kesalahan salah menempatkan jadwal meeting dia dengan seorang investor dan hampir membuat mereka rugi ratusan miliar. Tatapan itu lah yang muncul.

“Gue gak tahu dia mau ngomong apa, gue juga tahu ini kesalahan atau gak, tapi Van, lain kali jangan ikut campur urusan pribadi gue.”

“Maaf Pak,” ucap Devan sambil menunduk.

“Duduk, dia mau ngomong kalau lo udah dateng.”

“Takut banget lo sama dia? Gak usah takut sama dia mah. Toh lo juga dari keluarga berada kan.”

Lihat selengkapnya