His Obsessions, Her Home

Ang.Rose
Chapter #23

The Fall

Sesuatu yang sebenarnya sudah diprediksi oleh Yuna akan terjadi, namun ketika hal ini kembali terjadi, Yuna tidak tahu bahwa ketakutan itu akan memakannya secepat ini.

Ini akan berakhir, kalau lo menjauh dari Yesa.

Itulah tulisan yang dia temukan di kamar hotelnya waktu dia melarikan diri dan menghilang untuk sementara waktu, dia tahu kalau dia mendekat lagi dengan Yesa cepat atau lambat hal ini akan kembali terjadi, tapi pertanyaannya kali ini adalah, darimana orang itu tahu?

Gak ada pengumuman apapun tentang kerja sama ini. Yesa udah janji gak akan umumin ini, orang itu tahu darimana?

Yuna mengunci dirinya di ruangan pribadinya, dia menyuruh semua orang untuk pergi meninggalkan dia dan tutup mulut tentang ini, apapun yang terjadi Yesa tidak boleh tahu tentang apa yang terjadi.

Sang om memang menyuruhnya untuk mengabarinya jika hal ini kembali terjadi, tapi kalau itu dia lakukan, entah apa yang terjadi kepadanya, apa yang akan terjadi kepada Yesa, apa yang akan terjadi ke YNK?

Yuna tak bisa membayangkan situasi yang akan terjadi, bagaimana pun juga, dia harus menahan ini. Menahan ini untuk sementara.

Bisa, kalau dulu gue bisa, sekarang juga pasti bisa. Gak ada yang gak mungkin gue bisa, bisa pasti bisa.

Ucapan semua yang dia lontarkan kepada dirinya sendiri, walaupun degup jantungnya tidak melambat sejak tadi, walau keringat dingin itu tak kunjung berhenti, Yuna tetap bertahan, bertahan walau sulit dia lakukan.

Yuna mengambil tasnya dan keluar dari ruangan, matanya mencari seseorang. “Tata!” teriak Yuna dari depan ruangan.

Greta berlari dari ada luar masuk ke dalam dengan Yesa di belakangnya. “Kenapa? Ada apa?”

Melihat Yesa dihadapannya Yuna terdiam, dia berusaha untuk mengatur ekspresinya tidak membiarkan Yesa mengetahui kalau dia gelisah ataupun habis ketakutan, dia melemparkan senyum walaupun dia tahu itu benar-benar palsu, dan orang seperti Yesa adalah orang yang bisa melihatnya secara utuh, apapun yang dia lakukan Yesa pasti tau ada sesuatu yang dia sembunyikan.

“Hmm, gue mau pulang, yang lain jangan biarin nginep lagi ya.”

“Serius? Lo mau pulang? Setelah yang terjadi tadi?” ujar Jecklyn yang keluar dari pantry setelah mendengar Yuna berteriak.

“Ada apa tadi? Ada sesuatu?”

Yuna langsung menoleh ke Jecklyn menyuruhnya untuk dia, setelahnya dia menggelengkan kepalanya ke Yesa. “Gak ada, boleh anter aku pulang Sa?”

“Oke, aku emang mau jemput kamu, ini bener gak papa? Gak ada yang aku perlu tahu?”

“Oh, maksud Jeje tadi, foto produk udah ada, jadi kita bentar lagi mau input produk sama ngirim ke influencer, tadi Yuna bilang mau bantu,” cegah Pamela langsung begitu dia melihat Yesa yang cukup curiga.

“Mau saya bantu? Saya bisa suruh tim sekretaris saya dateng kalau emang butuh bantuan.”

“Gak usah, Pak Yesa, kita bisa kok,” jawab Greta langsung.

“Kalau mau bantu, boleh Pak, omakase lagi,” ucap Pamela sambil tersenyum.

“Oh, Devan lagi urus itu tenang aja. Na, kamu yakin mau pulang sekarang?”

“Hmm, aku mau pergi ke sana, tolong anterin aku.”

Greta, Pamela dan Jecklyn terkejut. Ke sana yang dimaksud oleh Yuna adalah makam mendiang orang tuanya, tidak pernah satu kalipun dalam persahabatan mereka Yuna meminta ijin untuk pergi kesana, karena memang makam itu tidak ada jasadnya, hanya satu peti mati dengan dua nama di satu batu nisan.

Kedua orang tua Yuna meninggal dalam kecelakaan pesawat yang hilang kontak dalam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, awalnya pesawat yang hilang kontak itu kembali bisa dihubungi namun tidak sampai 2 menit kemudian pesawat tersebut hilang kembali dan hanya ditemukan puing-puing di sekitar perairan Karimunjawa.

Lihat selengkapnya