Flashback Yuna on her last day
“Aku balik ke kamar dulu ya, Tan. Gak kuat pusing banget.”
“Hmm, hati-hati.”
Yuna merapikan handuk dan barang yang dia letakkan di meja samping tempat duduknya. Riana masih sibuk bicara dengan polisi yang menyamar di pinggir kolam renang, entah bagaimana caranya tapi polisi yang di jakarta berhasil meyakinkan polisi di Surabaya untuk mengawal Yuna dan Riana.
Sambil menggendong tasnya, namun tas itu diambil oleh seorang Polisi bernama Roni, itulah Polisi dari Jakarta yang berhasil meyakinkan mereka berdua untuk pergi sementara dari Jakarta.
Yuna sering mendengar kalau ada laporan tentang hal seperti ini jarang ditanggapi oleh Kepolisian namun entah mengapa Polisi ini begitu menanggapi hal ini, Yuna pun tak bertanya.
“Saya bisa bawa sendiri.”
“Kamu bisa bawa sendiri tapi saya gak mau kamu pergi sendirian.”
Yuna menatap Roni yang jauh lebih tinggi darinya. “Mau apa? Deket sama Tante?”
“Tante kamu cantik memang, tapi saya gak akan terlibat secara pribadi sama korban selama masa penyelidikan.”
Yuna tersenyum. “Mudah-mudahan ya, kasus saya cepet selesainya supaya anda bisa mendekati tante saya.”
Lift pun berhenti Yuna ditemani oleh Roni berjalan menyusuri lorong yang sepi itu, ini bukan hari libur jadi sudah pasti kalau sepi, dan jarang ada yang lalu lalang. Kamar Yuna dan Riana berada di ujung lorong untuk meminimalisir ancaman, kamar Roni pun juga berada di lorong yang sama.
Namun ada yang aneh, kamar Yuna terlihat sedikit terbuka dibagian. Yuna pun menyadari hal tersebut. “Aku udah yakin pintu kekunci sebelum keluar dan kamar aku gak boleh masuk cleaning kan? Aku juga gak minta dibersihkan.”
Roni langsung memberi isyarat untuk Yuna berhenti dan tidak berjalan lagi, Roni mengambil baton untuk bersiap-siap, dia berjalan perlahan-lahan menyusuri lorong yang gelap itu, sampai di depan pintu kamar, dia membuka pintu dengan hentakan, dengan diam dia menyusuri setiap sudut kamar itu, lemari, kamar mandi, dan sudut lainnya.
Semua terasa aman, Roni ingin keluar namun dia menyadari sesuatu, di meja rias ada secarik kertas, secara singkat Roni membaca isi pesan tersebut dan terkejutlah dia, sepertinya masalah ini jauh lebih dalam dari apa yang dia pikirkan, sejak kejadian yang dialami Yuna ketika di kamar kos itu membuat Roni bertindak lebih jauh, menutupi jejaknya berulang kali, tapi nyatanya keberadaan Yuna tetap saja diketahui.
Roni keluar menghampiri Yuna yang bersandar di lorong, wajahnya memang terlihat biasa saja, tapi dia bisa merasakan bahwa ada aura cemas dan takut yang muncul. Dia hanya melipat tangannya berusaha memberikan kesan bahwa dia baik-baik saja padahal kenyataannya tidak.
Anak ini terlalu lama menderita dan masih ada aja orang yang ingin membuat dia lebih sengsara.
“Ada orang?” tanya Yuna.
“Enggak ada, tapi ada sesuatu didalam, saya mau kamu lihat dulu. Baru saya panggil yang dibawah.”
“So, I’m not supposed to touch anything, just look?”
“You know the drill.”
Yuna menghela nafasnya, dia berjalan masuk ditemani oleh Roni yang berjalan di depannya, dan Roni pun langsung menunjuk kertas di meja rias, arah mata Yuna pun langsung kesana dan membacanya dengan cepat.
Seakan tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pada nafasnya, Yuna langsung histeris dan keluar dari kamar itu, dia berjongkok dan merasa semuanya tidak baik-baik saja. “Gak, gak, gak mungkin, gak!!” teriak Yuna.