His Obsessions, Her Home

Ang.Rose
Chapter #25

Barge in

Yuna terbangun dari tidur yang nyenyak, sudah beberapa tahun dia tidak pernah senyenyak ini, semua karena kemarin, meskipun dia ketakutan tentang apa yang akan terjadi, tapi ketika dia melihat Yesa ada didepannya saat ketakutan itu datang, yang dia rasakan justru ketenangan.

Dia tidak merencanakan untuk pergi ke pantai, dia hanya ingin kabur, dan mengurung diri di kamarnya, atau kembali pergi ke Jogja untuk tinggal bersama Riana sementara waktu, namun ketika dia melihat wajah Yesa, disanalah dia mengerti, tidak perlu takut lagi, tidak perlu lagi khawatir, semua terangkat begitu dia melihat wajah yang begitu—dia rindukan.

Ponselnya bergetar di nakas, Yuna melihatnya dan terkejut melihat siapa yang menghubunginya di pagi hari. Roni.

Kenapa? Tumben, apa jangan-jangan….

Sebuah kekhawatiran muncul di benaknya, kini keluarganya memang sudah bertambah lagi, dia punya rumah untuk dia benar-benar pulang, namun jika orang itu juga pergi seperti ayah dan ibunya Yuna sudah tahu dia tidak akan bisa kembali waras.

“Tante gak papa Pak?” tanya Yuna begitu dia menerima panggilan tersebut.

“Tantemu gak papa, saya mau nanya sesuatu dan ini serius, Nana.”

Serius. Sebuah kata yang tidak main-main ketika keluar dari mulut Roni, dia rela meninggalkan karirnya di Polda Metro Jaya demi membangun rumah di Jogja yang tenang sesuai dengan keinginan Riana.

Kini anggota keluarga mereka bertambah sudah ada Lukas, dan Yuna pun bahagia melihat sepupunya yang masih kecil itu, bak anaknya sendiri.

“Tentang apa? Saya takut kalau Bapak udah bilang kata serius.”

“Kalau kamu takut ya jangan bikin ulah lah.”

“Ih saya gak bikin ulah,” bantah Yuna.

“Oke, oke, saya mau tanya, kamu kemarin sempet berantem sama Riana soal uang, dan tiba-tiba kamu stop ngerengek ke Riana tentang uang, kamu udah dapet investor baru?”

Entah bagaimana caranya, tapi Yuna tidak menyangkah bahwa intuisi Polisi itu benar-benar hebat, hubungan Roni dan Riana memang sudah lama, dan kedekatan antara Yuna dan Roni juga berkembang dengan baik.

Tapi tidak pernah muncul di benak Yuna, Roni begitu mengenal dirinya secepat itu, mengetahui apa yang dia pikirkan dan tingkah lakunya dalam hitungan tahun.

“Bapak, gak nyesel nolak permintaan dari divisi kriminal khusus demi tante?”

“Menyesal? Enggak, saya gak perlu berada di sana untuk mengayomi masyarakat, lagi pula untuk saya, kamu dan Riana itu penting dan sekarang udah ada Lukas, saya gak mungkin mengambil pekerjaan yang high risk ketika anggota keluarga kita bertambah satu.”

Keluarga kita. Kata-kata itu selalu menenangkan untuk Yuna, dia selalu diingatkan bahwa dia masih memiliki keluarga, dia tidak sendirian dan tidak perlu, tidak perlu merasa sendirian.

“Jadi, kamu bisa jawab pertanyaan saya atau gak?”

Yuna menyerah, lagi pula tidak ada gunanya untuk berbohong kepada orang ini, apapun yang terjadi, dia pasti akan mengetahuinya cepat atau lambat.

“Iya, Yesa yang jadi investor baru, dia bahkan menyingkar semua investor aku, dengan balikin semua uang investasi mereka termasuk profitnya.”

“Ada yang tahu?” tanya Roni dengan nada rendah diikuti helaan nafas yang berat.

“Untuk sementara, harusnya gak ada. Karena aku minta dia supaya jangan bilang ke media kalau kita kerja bareng.”

“Nana, saya mimpi soal kejadian di hotel waktu itu, makanya saya nelfon kamu, saya cuma pengen nanya, kejadian itu apa terulang lagi?”

Yuna tak bisa menjawab, dia terdiam seribu bahasa, dia tahu om dan tantenya begitu menjaganya sejak dulu, dan jika hal ini kembali terjadi sudah pasti mereka akan khawatir.

Lihat selengkapnya