His Obsessions, Her Home

Ang.Rose
Chapter #26

Conversation

Sambil menunggu Yuna keluar dari kamarnya, dia bisa melihat betapa orang-orang sedikit terkejut melihat dia dan Yuna keluar dari balkon, dan bukan hanya itu, ketika pagi-pagi Yesa menyuruh orang-orang untuk datang ke apartemen ini.

Devan tidak masalah, tapi Alexa merasa tidak enak, apalagi dia pernah melakukan hal yang pernah membuat Yuna kesal padanya, tapi setidaknya itu membuktikan satu hal.

Dia, masih menyukai Yesa.

“Kak, ini serius kita masih harus disini?” tanya Alexa.

“Hmm, sekalian aja sarapan disini abis itu kalian berangkat kerja masing-masing. Kamu gak perlu balik ke Singapur?” tanya Yesa.

Alexa menggelengkan kepalanya sambil mengambil gelas berisi air putih. “Orang tua itu bilang aku gak papa gak balik, dan dia punya banyak manpower untuk sementara, tapi kalau urgent nanti dia suruh aku kesana, lagi Jakarta-Singapura gak jauh.”

“Kalau kamu pergi lagi, aku ditinggal gitu maksudnya?” tanya Yohan.

“Kayak gak pernah aku tinggal aja sih, sayang,” jawab Alexa sambil mengusap kepala Yohan.

“Astaga, harus banget gue jadi saksi ginian, capek banget,” gumam Devan yang kesal melihat pasangan di depannya.

“Sabar-sabar ya Van, ntar lagi malah kayaknya lebih seru,” saut Alexa sambil menunjuk ke pintu kamar yang terbuka.

Yuna keluar dari kamar dengan pakaian bekerja, dia duduk lalu mengambil air putih, matanya melihat orang yang ada di depannya satu persatu. “Mohon maaf, tapi kayaknya saya perlu tahu, kenapa semuanya sarapan dirumah saya?”

“Oh, simpel,” ujar Alexa. “Welcome to the family, kak Yuna!” ucapnya sambil tersenyum.

“Family?” Yuna menatap Yesa. “Ini ada apa deh sebenernya?”

Namun Yesa hanya mengangkat bahunya. “Nothing special, aku udah lama gak ketemu Yohan sama Alexa, biasanya kita sarapan di hotel, tapi, aku pengen sekalian ngenalin kamu sama Alexa jadi, aku boyong aja semua kesini.”

“Oh ya!” Alexa memotong pembicaraan mereka berdua. “Minggu depan kan ulang tahun YNK, dan produk kakak udah launching semalem, antusiasmenya besar banget kak! Terjual 3 ribu piece.”

“3 ribu? Kamu manipulasi penjualan?” merasa tak percaya Yuna menatap Yesa dengan curiga.

“Kita aja pulang dari pantai jam berapa? Kamu tadi malem tuh demam tinggi, aku ngurusin kamu, telfon dokter, aku sempet telfon Greta katanya semua lancar, mana ada waktu aku sewa buzzer buat beli produk?”

Yuna mengerutkan keningnya, dia tidak ingat apa-apa, bagi Yesa jelas saja, karena ketika dia sedang berkendara dan berhenti di rest area untuk membeli kopi, dia baru sadar Yuna demam tinggi.

“Berarti semaleman kamu dirumahku?”

“Iya lah, siapa yang mau rawat kamu? Aku gak mungkin ngerepotin Pamela atau Greta mereka sibuk, ya jadi aku. Aku gak gantiin baju kamu kok.”

Yuna terdiam, dia menghela nafasnya perlahan. “Maaf aku ngerepotin.”

“Enggak kok.”

“Ehem!” Devan kembali menyela perbincangan itu, dia benar-benar kesal melihat dua pasangan saling bermesraan di depannya. “Bisa kita makan? Pak, kita harus ke kantor, Pak Hadi minta ketemu di kantor.”

“Papa?” Yohan dan Yesa terkejut bersamaan.

“Wow,” ujar Alexa sambil tersenyum. “Boleh ikut gak?” tanyanya santai.

Devan menggelengkan kepalanya. “Cuma Pak Yesa, mas Yohan gak perlu, jadi bisa kita sarapan sekarang, maaf nih bukannya mau merusak suasana.”

Lihat selengkapnya