Devan pergi ke pintu darurat yang selalu menjadi spotnya untuk berdiam diri ketika masih dalam pekerjaan, tempat yang tak sengaja dia temukan ketika dia mencari Yesa dan memergokinya merokok di tempat ini.
Sudah biasa jika laki-laki punya pelariannya sendiri, Yohan berpesta, Yesa merokok dan dia sendiri mencari keheningan.
Pesan singkat dari sang kakak membuat dia menghela nafas berkali-kali, bukan apa-apa tapi tidak pernah ada yang tahu kalau dia dan Keluarga Yaniar memiliki hubungan, tapi tidak seperti yang orang pikirkan.
Pulang bentar Van, ada yang harus diomongin. Papa udah ngomong sama Pak Hadi, tinggal lo ngomong sama Yesa.
Melihat kembali layar ponselnya, Devan memutuskan untuk menelpon kakaknya.
“Kenapa Van?” tak butuh waktu lama sang kakak David langsung menerima panggilan tersebut.
“Apa yang mau diomongin? Gue gak bisa pulang, kerjaan disini masih banyak, dan masih ada yang harus di urus.”
“Papa yang nyuruh, gue gak tahu, lagi juga lo gak kangen sama dia? Katanya bulan kemaren gak jadi pergi lo.”
“Gimana mau pergi ada kerjaan mendadak, gue udah minta maaf kok.”
“Yaudah pulang deh sebentar, paling 2 harian aja, apa perlu gue bilang sama Yesa?”
“Gsk usah, nanti gue coba ngomong deh.”
“Oke.”
Devan menyelesaikan panggilan tersebut, dan ketika mau berbalik, ternyata Yesa sudah ada dibelakangnya, wajahnya terlihat tidak senang dan sepertinya dia sudah mendengar semuanya.
“Pak….”
“Gue gak marah soal lo ternyata anak keluarga Yaniar tapi kenapa lo gak bilang kalau lo disuruh pulang?”
“Ah itu—saya rasa ini tentang suksesi juga Pak, dan saya gak mau terlibat.”
“Tapi bukannya David juga gak mau?”
“Kak David bukannya gak mau, tapi dia minta kerja di luar aj sebelum kerja di perusahaan keluarga, cuma ini kakak bilang disuruh pulang aja, mungkin bukan itu.”
“Van,” Yesa mendekat sambil bersandar di railing tangga. “Keluarga itu lebih penting dari pekerjaan, jangan sampai pekerjaan jadi alasan lo buat menghilang dari keluarga. Udah pergi aja dulu.”
Devan kembali menghela nafasnya, banyak yang ingin dia sampaikan, tapi dia sadar ini bukan tempatnya untuk bicara tentang itu.
“Kapan-kapan Van, kapan-kapan gue bakal siapin ayam goreng sama bir terus kita ngobrol dari pagi ketemu pagi.”
Entah mengapa Devan tersenyum mendengar itu, Yesa bahkan lebih mengerti dirinya, dibanding dengan David, meskipun itu sesuatu yang wajar, karena mereka tidak pernah bersama sejak kecil.
“Makasih Pak.”
“Dan ketika itu terjadi, lo gak boleh panggil gue bapak, panggil Kakak, kayak Yohan manggil gue.”
Devan menatap Yesa sambil tersenyum. “Saya usahain ya Pak.”