His Obsessions, Her Home

Ang.Rose
Chapter #28

The Nightmare

Yuna memandang keluar jendela pesawat, bentangan awan dan warna biru yang membentang luas di angkasa, ataupun luasnya lautan di bawahnya, tidak ada satu pun dari hal itu yang membuat dia merasa—tenang.

Yuna berulang kali mencoba memejamkan mata, berharap dia bisa terlelap dalam perjalanan ini, meskipun kondisi pesawat kondusif, fakta bahwa dia berada di dalam pesawat sudah cukup membuatnya berkeringat di kala suhu cukup dingin, sudah pasti hal ini akan terlihat oleh awak kru, karena dia begitu gelisah.

Riana bahkan memilih Jogja sebagai tempat tinggal baru karena hanya tempat itulah yang cukup dekat dengan Yuna, dia jauh dari keramaian, tapi masih cukup untuk dijangkau dengan kereta tanpa waktu lama.

Roni tidak punya alasan untuk menolak, dia bahkan berusaha sekuat tenaga untuk bisa pindah ke Jogja, kenapa karena dia paham dialah orang terakhir yang masuk di kehidupan Riana dan Yuna.

Riana bisa menghidupi Yuna bukan dengan uang asuransi atau warisan, tapi memang dia dulu bekerja di perusahan multinasional dan bisa menghidupi Yuna dengan uangnya sendiri.

Yuna terus gelisah, dia berusaha merebahkan diri tapi tetap tidak terlihat nyaman, sepertinya hal itu disadari oleh seorang pramugari, hingga orang itu menghampiri Yuna dan berjongkok.

“Bu, saya Tina, ibu gak papa? Butuh obat atau sesuatu? Kayak gelisah soalnya atau mau tambahan selimut?”

Yuna sedikit terkejut namun dia berusaha tenang sambil kembali duduk tegak sambil mengembalikan posisi kursi. “Saya mengganggu ya? Maaf,” Yuna mencoba bicara tanpa terdengar seperti orang yang ingin menangis.

“Oh, enggak bu, kalau ibu butuh sesuatu biar saya bantu.”

Yuna tersenyum tipis, dia bisa mendengar ketulusan dari pramugari itu bahkan wajahnya terlihat khawatir. “Penerbangannya berapa lama lagi ya?”

“Sekitar 45 menit lagi sampai landing.”

Yuna hanya mengangguk-angguk kecil. “Hmm, maaf tapi saya sebenarnya sedikit trauma sama pesawat, jadi makanya agak gelisah.”

Pramugari itu terlihat bingung mau menjawab apa, ya karena sepertinya dia bisa mengerti apa yang membuat Yuna trauma, mereka pun berangkat kerja dengan taruhan nyawa setiap harinya.

“Ibu bisa minum teh? Atau mau air hangat aja? Biar sedikit tenang, nanti saya bilang yang lain untuk gantian temenin ibu.”

Yuna dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Enggak usah, justru itu jadinya saya ngerepotin, gak papa kok. Air hangat aja cukup.”

Lihat selengkapnya