Hiruk pikuk dunia orang dewasa ternyata lebih menyebalkan dari yang gue bayangin.
Setiap pagi alarm berbunyi sebelum matahari benar-benar naik. Gue bangun dengan mata setengah terbuka, mandi secepat mungkin, lalu mengganjal perut pakai apa pun yang ada di kulkas.Nasi basi pun gue lahap nggak ada waktu buat menikmati sarapan bergizi. Yang penting perut nggak kosong dan gue nggak mati konyol saat bekerja nanti.
Begitu pintu apartemen tertutup, kaki gue langsung bergerak otomatis menuju stasiun. sempat pede karena gue merasa udah paling pagi datang kesini.
Sampai akhirnya gue melihat lautan manusia pakai mata sipit yang susah melek karena belek masih nempel diujung kelopak.
Mereka datang dari segala arah dengan langkah yang nyaris sama cepatnya. Setelan jas, rok kerja, tas punggung, koper kecil, earphone yang menempel di telinga. Semua berjalan tanpa saling menyapa, dunia sudah hafal kemana kaki mereka harus melangkah.
Gue ikut mempercepat langkah.
Ya tapi percuma. Mau gue lari sampai ngos-ngosan pun, kaki pendek gue tetap kalah saing sama orang-orang Tokyo yang tingginya alamak gue harus jingkit kalau mau ngobrol sama mereka.
Baru beberapa detik, mereka sudah jauh di depan. Gue hanya bisa nyelip di sela-sela kerumunan sambil berusaha nggak kehilangan arah.
Kereta datang tepat waktu.herannya mereka tertib berdiri lurus di garis kuning.Pintunya baru terbuka beberapa senti, arus manusia langsung bergerak masuk. Gue ikut hanyut. Badan gue yang nggak seberapa ini entah gimana selalu berhasil masuk ke dalam gerbong. Begitu pintunya menutup...
Selesai sudah.
Bahu gue kejepit tas seseorang. Siku orang di sebelah kanan nempel di lengan gue. Dari belakang ada yang tanpa sengaja terus mendorong karena memang nggak ada lagi ruang kosong. Mau ngeluarin ponsel aja rasanya mustahil.
Hari ini adalah hari pertama gue hidup sebagai jurnalis magang di salah satu majalah paling nggak terkenal di Tokyo.
Jangan tanya nama majalahnya. Gue juga baru tahu setelah mereka ngirim email penerimaan.