
Moskow, enam bulan lalu. Penghujung musim dingin.
KALALESA MAHAMERU
Di luar jendela, salju turun malas-malasan seperti orang yang sebenarnya sudah ingin pulang, tetapi terlanjur digaji untuk tetap berada di langit. Di dalam ruangan yang jauh lebih hangat, seorang pria jangkung duduk serius di depan meja kerja. Tangannya bergerak lincah di atas kertas.
garis demi garis muncul dengan cepat. Seorang tokoh utama selalu berhasil berdiri dengan rambut tetap keren meskipun baru saja dilempar menembus tiga gedung. Pria itu sedang menggambar panel adegan aksi fantasi.
Wajahnya serius sekali,nasib dunia benar-benar bergantung pada ujung pensil yang sedang dipegangnya. Di sampingnya, secangkir kopi panas mengepul tanpa henti. Kopinya sudah beberapa kali diminum, tetapi bukannya membuat pria itu segar, matanya justru semakin berat.
Ia menguap, berusaha menahan rasa kantuk, tetapi gagal juga. Mulutnya terbuka lebar, sementara tangannya tetap menggambar sampai satu garis lurus berubah jadi garis miring. Monster yang tadinya sedang mengayunkan pedang mendadak memiliki sesuatu yang bentuknya lebih mirip antena televisi.
Di belakangnya, sebuah rak buku mewah berdiri dengan susunan yang sangat rapi. semua buku sejajar, tidak ada satu pun yang miring. Di bawah meja, ada dua bungkus rokok Marlboro merah yang sepertinya sudah mengalami masa depan yang cukup tragis.
Ia kembali meneguk kopi panas. Ia langsung meringis.
"Ah."
Suara langkah kaki terdengar dari lorong. Pria itu masih menunduk di depan meja saat pintu di belakangnya terbuka pelan dengan derit kecil. Seorang wanita masuk. Usianya beberapa tahun di atas pria itu. rambut panjangnya masih sedikit berantakan, mungkin baru bangun tidur. Wajahnya cantik, bahkan dalam keadaan mengantuk sekalipun ada sesuatu dari parasnya yang mengingatkan pada Dewi Kwan Im dalam film Kera Sakti. Hanya saja, Dewi Kwan Im mungkin tidak akan berjalan keliling rumah dengan wajah kesal seperti itu.
Wanita itu mengenakan baju tidur yang kelihatannya sangat mahal. Kalau penulis novel ini disuruh beli, mungkin harus menjual laptop dulu dan mengajukan cicilan. Ia berhenti di dekat pintu.
"Di sini kamu rupanya?" Suaranya agak ketus.
Pria itu malah mengambil cangkir kopinya dan meneguk sedikit. Satu detik kemudian, wajahnya berubah.
"Ah..panas." Cangkir buru-buru ditaruh kembali. Ia membuka mulut sambil mengipasi lidahnya dengan tangan.
Lalu memandangnya dengan tatapan datar.
"Aku dari tadi manggil kamu."
Pria itu tidak menoleh.
"Hei."
Masih tidak ada reaksi Wanita itu berjalan mendekat.
"Kamu dengar aku?"
Ia memperhatikan kertas yang sedang dikerjakan adiknya gambar seorang tokoh yang sedang bertarung dengan makhluk besar, dikelilingi garis-garis ledakan yang cukup ramai.
"Sejak kapan kamu di sini?"
"Ya, dari tadi."
"Terus kenapa dari tadi aku ngomong, kamu nggak jawab?"
"Aku kira kamu ngomong sama orang lain."
"Di ruangan ini cuma ada kita berdua."
Pria itu melihat sekeliling. "Oh."
Kemala Mahameru berdiri di belakang kursi Kalalesa dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia adalah anak tertua keluarga Mahameru, putri pertama pemilik perusahaan properti besar yang namanya sudah lama berkeliaran di berbagai kota termasuk Moskow, tempat keluarga mereka membangun salah satu kantor pusatnya.
Kemala menatap punggung adiknya beberapa saat. Kalalesa masih menggambar, seolah perempuan yang berdiri di belakangnya itu tidak ada.
"Berhenti bersikap apatis, Kalalesa."Nada Kemala terdengar datar, tapi ujung kalimatnya jelas mengandung kesal.
"Mau sampai kapan kamu menggambar hal yang nggak berguna kayak begini?" Tangannya menunjuk kertas di depan Kalalesa.
Kalalesa bahkan tidak menoleh.
Kemala menarik napas melalui hidung. Ia membungkuk sedikit, mencoba melihat gambar yang sedang dikerjakan adiknya.
Kemala mengangkat wajah. "Bocah idiot"
Ia menarik kursi di sebelahnya, lalu duduk dengan gerakan agak keras.
"Kamu tahu Ayah sudah tiga kali menghubungimu?"
"Tahu."
"Ya, kalau tahu kenapa nggak dijawab?"
"Males."
"Kamu punya waktu menggambar dari pagi sampai malam.Tapi angkat telpon ayah nggak bisa."
"Berhenti mengusik duniaku, Kemala."
Kemala menatapnya tidak percaya.
"Kalalesa."
"Hm?"
"Kamu harus pulang ke Indonesia."
"Nggak."
"Kamu bahkan belum dengar lanjutan omonganku.."
"Semua sudah ku tebak"