#HiSayurKale

LintangSkalaBhumi
Chapter #3

POWERRANGER BLACK - 1




Tokyo, Enam bulan lalu.

 

Hoaamph…!

Gue menguap lebar-lebar menyedot lalat masuk kemulut sambil meregangkan badan sampai bunyi kletak-kletek di tulang punggung, kayaknya tetangga sebelah kamar curiga kalau gue lagi ritual pesugihan. Hampir enam jam gue duduk membeku di depan PC tua yang kinerjanya lebih mirip pasien koma ketimbang komputer masa kini.

Jengkel. Oh, jangan ditanya. Setiap kali gue ngetik huruf “A”, kursornya malah lari maraton ke pojok layar, kadang malah nulis sendiri secara mistis tanpa ada hantu yang nyentuh keyboard. Ya mau gimana lagi, harap maklum. Bokap dulu beli rongsokan berkedok komputer ini dengan harga miring di toko barang bekas, hasil tawar-menawar sadis sampai penjualnya hampir nangis darah.

Tiga bulan sudah gue resmi menyandang gelar terhormat sebagai pengangguran elite di Tokyo, setelah jungkir balik menyelesaikan masa kuliah dengan kondisi ekonomi yang bener-bener empot-empotan.

Buat bertahan hidup dan membiayai ambisi pendidikan yang maha misterius ini, jadwal harian gue rasanya udah mirip atlet ninja warrior,

Pagi hari: Gue bertransformasi jadi tukang bersih-bersih apartemen harian lepas. Ngucek seprai, ngepel lantai, sampai mungutin remah-remah keripik sisa cowok-cowok stres.

Siang hari: Gue ngibrit berangkat kuliah dengan muka bantal dan nyawa yang masih ketinggalan di guling.

Malam hari: Di sinilah keajaiban terjadi. Gue berkamuflase menjadi seorang webtoonis berpenampilan keren, menggunakan nama pena megah: POWERRANGER BLACK, enggak usah protes, kata gue mah ini udah keren.lengkap dengan avatar monyet lagi berpose swag pakai kacamata hitam.

Genre komik yang gue usung Komedi absurd tidak layak baca. Isinya nggak jelas, alurnya suka-suka gue, dan jadwal upload terbit kalau lagi mood apalagi beras di dapur udah habis. Baru gue semagat empat lima buat ngemis ke editor.

Di dalam kepala yang penuh halusinasi ini, gue selalu punya mimpi bisa jadi penulis terkenal. Webtoonis sejati yang karyanya diadaptasi jadi live-action Netflix, punya penggemar militan di seluruh dunia, dipuji, disembah, dan diagungkan sambil sebar-sebar uang dolar. Hehehe... so sweet banget kan khayalan gue?

Meskipun pada kenyataan aslinya, hal itu berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Di dunia nyata, gue hanya seorang penulis abal-abal yang karyanya sering dihujat pembaca garis sinting. Komentar di kolom webtoon gue bukannya muji estetika gambar, tapi malah,

"Admin, lu mabok kecubung ya bikin cerita kayak gini?"

Lihat selengkapnya