[7:55 WIB] Danau Taman Hidup
Usai menyelesaikan urusan dengan tiga perundung yang kerap mengusiknya, Akasa berjalan sendirian menyusuri hutan yang mulai diselimuti embun tebal, berusaha mendinginkan pikirannya yang masih kacau.
Betapa sakit hatinya, di kala ada orang yang seenaknya merendahkan ibunya. Ia bahkan nyaris kehilangan kendali—hampir berubah menjadi seorang pembunuh—kalau saja tidak teringat janji suci yang ia buat pada sang ibu untuk senantiasa berbuat kebajikan.
Amarah dan kesedihan masih bercampur dalam dada. Akasa terus melangkah tanpa memperhatikan arah. Pohon demi pohon ia lewati, namun emosinya tak kunjung reda.
Tanpa sadar, tirai putih yang menggantung di antara pepohonan kian menebal, bahkan lebih pekat. Membuat jarak pandang makin terbatas, hingga tak lebih dari lima puluh meter. Terlalu jauh untuk disebut gelap, namun cukup dekat untuk membuat arah terasa kabur.
Segalanya tampak samar. Tak ada yang terlihat selain dinding putih, seolah dunia di sekitarnya telah ditelan kabut yang hidup.
Akasa heran. Entah kenapa, kabut yang menyelimuti seisi hutan itu ... terasa aneh. Hawa dingin yang menusuk kulit—begitu pekat dan lembab—menghadirkan sensasi seolah sedang berada di alam mimpi. Ini jelas bukan kabut biasa.
Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di kepalanya, namun Akasa terus melangkah maju. Ia menyusuri jalan sunyi itu, seakan terpanggil oleh sesuatu yang belum ia pahami.
Tak lama, pepohonan mulai jarang. Tanah berumput yang lapang mendominasi. Akasa akhirnya keluar dari area hutan. Ketika memperhatikan sekeliling, tampaklah sebuah danau tenang dengan permukaan air yang sejernih kaca.
Langit kelabu terpantul di permukaannya, berpadu dengan selimut lembut kabut yang melayang di atasnya. Tempat itu tampak nyaman, sempurna untuk menenangkan hati. Akasa pun mendekat dan duduk di tepiannya.
Bayangan tentang kejadian barusan kembali melintas. Membekas dalam dan membuat batinnya bergejolak. Ia nyaris gelap mata—berubah menjadi sosok yang bahkan tak ia kenali sendiri—karena luka hatinya. Namun janji kepada sang ibu berhasil menariknya kembali dari ambang kehancuran.
Akasa terdiam. Ia termenung di tepian danau yang sunyi. Hanya desau angin dan percik air yang menemani. Cukup lama ia duduk, sembari menahan gejolak di dada, hingga lambat laun amarah itu mulai mereda.
Kini, kesadarannya kembali membaur dengan realitas yang fana. Akasa pun mulai bertanya-tanya, di mana sekiranya ia berada. Namun di sekelilingnya, hanya ada kabut putih. Ia mulai dilema.
Bentar ...
Kalau dipikir-pikir, ini di mana ya?
Akasa membatin. Wajahnya tampak bingung, meski tubuhnya masih duduk tenang di tempatnya.
Oh iya, kalo nggak salah, Pak Wandra pernah bilang di base camp ... setelah lewatin Hutan Lumut, kita bakal nemuin spot yang namanya ‘Danau Taman Hidup’. Apa ini yang dimaksud sama beliau ya?
Akasa coba mengingat kembali pesan Pak Wandra sewaktu di Base Camp Rohan.
Bukannya ... danau itu ada di spot terakhir sebelum nyampek Base Camp Sarkara? Harusnya kan butuh 4 hari? Tapi kok ini ada di deket Pos Mata Air 1? Apa penjelasannya kebalik?
Atau ... ini bukan tempatnya?
Akasa bergelut dengan pikirannya. Entah kenapa, pemandangan memikat di hadapannya ... terasa aneh. Semuanya terlalu sunyi, seakan malaikat maut—yang menaiki perahu kayu dengan lentera di tangan—akan datang.
Namun belum sempat ia menemukan jawaban, tiba-tiba terdengar suara samar—seperti ketukan—yang bergema dari kejauhan. Makin lama makin jelas, hingga perlahan berubah menjadi alunan gamelan yang berirama lembut.