HITAM - PUTIH

hendri putra
Chapter #34

Chapter 34 : Mesin Minuman

Tony dan Diego lantas turun dan berjalan menuju tempat sebuah mobil yang terparkir di salah satu sudut di area basement gedung milik Alex Montreal. Di sana sudah berdiri dua orang anak buah Alex Montreal yang menunggu mereka sejak tadi. Mobil sedan berwarna hitam itu memang di persiapkan oleh Alex Montreal untuk membawa uang 50 Milyar seperti yang diminta oleh si tukang peras tadi. Tony juga tampak menenteng sebuah koper uang berwarna hitam sejak dari atas atau dari kantor Alex Montreal.

Dua orang sejak tadi berdiri menunggu mereka tadi, segera langsung membuka bagasi belakang mobil tersebut. Tony sedikit terkejut saat melihat isi bagasi mobil itu hanyalah tumpukan kertas putih yang berukuran seperti ukuran uang yang sebenarnya tersusun rapi.

"Heh ... apa ini? Mana uangnya?" tanya Tony heran.

"Uang asli hanya ada di dalam koper tersebut, tidak ada transaksi, tidak ada uang yang harus di keluarkan. Kalian harus ingat, tugas kalian hanya menangkap orang itu dan bawa orang tersebut ke hadapan tuan Montreal!" ujar anak buah Alex Montreal dengan nada sedikit menyombong dan meremehkan Tony.

"Ya ... ya ... aku mengerti! Tapi tolong jaga bicaramu itu, aku bukan anak buah rendahan seperti kalian!" balas Tony kesal.

"Terserah kalian saja," sahut anak buah Alex Montreal sambil memberikan kunci mobil tersebut kepada Diego.

Mereka berdua segera berangkat setelah mengambil mengambil kunci mobil dari tangan anak buah Alex Montreal.

*****

Di stasiun kota ...

Seorang pria gemuk pendek berdiri di satu sudut stasiun kota tersebut. Sejak tadi dia tampak gelisah dan terus memperhatikan sebuah mesin minuman otomatis yang terletak tak jauh dari tempat dia berada.

Berbatang-batang rokok telah dihisapnya untuk mengusir rasa gugup pada dirinya.

Jika diperhatikan dari tampang dan gerak-geriknya, sudah dipastikan orang itu adalah Don, pimpinan dari sebuah majalah yang bernama "Suara Keberan". Bos dari seorang pemuda yang pemberani bernama Kent.

Setelah melihat foto-foto yang didapatkan oleh Kent, Don sempat merenung sejenak dan berada dalam dilema yang begitu besar. Mau diungkap ke publik atau di gunakan untuk kepentingan dirinya sendiri yang saat itu memang sedang mengalami kesulitan keuangan yang sangat parah. Di saat yang bersamaan memang Don membutuhkan uang untuk membiayai kuliah anaknya yang berada di luar negeri. Dan di saat itu dia juga terlilit hutang piutang yang sangat banyak karena hobinya yang suka bermain judi.

Kesulitan yang sedang dia hadapi membuat Don tidak dapat berpikir rasional lagi. Don mulai berpikir bagaimana cara mendapatkan uang yang banyak dengan cara yang sangat mudah. Saat dia kembali memperhatikan foto-foto yang ada di atas meja kerjanya, maka timbulah niat di dalam dirinya untuk memeras dan meminta uang yang sangat banyak kepada Alex Montreal dan kawan-kawan yang berada di dalam foto tersebut. Kent sendiri tidak mengetahui apa yang telah di perbuat oleh bosnya itu.

Dari tempatnya berdiri, Don memperhatikan dua orang pemuda sedang berjalan menuju sebuah mesin minuman otomatis.

"Akhirnya mereka datang juga," berkata Don di dalam hati.

Tony tampal begitu sangat kesal karena ternyata di stasiun tersebut ada banyak mesin minuman otomatis.

"Aku harap ini mesin yang kita cari," ujar Tony.

"Semoga saja seperti itu!" sahut Diego.

Tony yang tidak terlalu tinggi, meminta Diego memeriksa bagian atas mesin minuman itu.

Lihat selengkapnya