Mobil sedan itu berjalan meninggalkan gedung yang bernama Montreal Tower, gedung yang juga merupakan milik dan sekaligus kantor bagi Alejandro Montreal.
Diego mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang. Tony yang duduk di samping saat itu sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Ya, ada apa?" tanya Tony menjawab panggilan telepon itu.
"Di mana posisimu sekarang?" tanya orang yang menghubunginya.
"Aku sedang dalam perjalanan menuju stasiun kota, ada apa?"
"Kebetulan sekali kalau begitu."
"Apanya yang kebetulan?"
"Begini, mobilku mengalami masalah di bawah jembatan layang, tak jauh dari stasiun kota, bisakah kau mampir dan menyinggahiku di sana?"
"Baiklah, kau tunggu saja di sana, sebentar lagi aku akan sampai!" tutup Tony.
"Siapa yang menelepon tadi?" tanya Diego.
"Manny, sepertinya mobil dia ada sedikit masalah katanya," jawab Tony.
Tak sampai lima belas menit mobil itu pun sampai di dekat jembatan layang dan Tony menyuruh Diego menepikan mobil di dekat sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan.
Tony menyuruh Diego untuk menekan klason mobilnya agar orang yang di dalam mobil yang sedang terparkir itu keluar.
Manny langsung keluar dan menghampiri mobil Tony.
"Ada masalah apa dengan mobilmu itu?" tanya Tony.
"Aku tidak tahu apa masalahnya, tiba-tiba mati begitu saja saat tadi sedang berjalan," jawab Manny.
"Baiklah, Aku akan menghubungi Ramos agar dia membawa mobil derek ke sini dan membawa mobil bututmu itu ke bengkel," kata Tony sambil menelepon Ramos.
"Kalian mau kemana? bisakah aku ikut dengan kalian?" tanya Manny.
Tony diam dan berpikir sejenak, sebelum memperbolehkan Manny untuk ikut besama mereka.
Manny duduk di jok bagian belakang.
"Ini kebetulan sekali!" kata Manny memulai pembicaraan.
"Iya sangat kebetulan sekali, saat mobilmu rusak, saat itu ada kami yang lagi-lagi kebetulan melewati jalan dimana mobilmu sedang mengalami masalah, kau tahu tidak ..."
"Tahu apa?" potong Manny.
"Kalau tidak serba kebetulan, si penulis cerita ini tidak akan tahu lagi harus bagaimana menulis kelanjutan ceritanya, hahaha," ujar Tony sambil tertawa.
"Sepertinya memang seperti itu, si penulis memang orang yang payah, sudah hampir empat bulan menulis yang baca ceritanya baru sedikit," seloroh Manny.
"Mana kontraknya di tolak melulu," celetuk Diego.
"Ah, aku cuma penulis amatiran, soal dikontrak atau tidak yang penting terus saja menulis saja dulu!" sahut si penulis cerita.