Tony bangun lebih pagi dari biasanya, dia lantas bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju arah jendela. Dia membuka jendela kamar itu, dengan mata terpejam dia menghirup segarnya udara pagi itu.
Dia tersenyum dan tertawa-tawa kecil saat mengingat pertemuannya kemarin dengan nona Martinez. Sejak pertemuan pertama kali dengan nona Martinez tempo hari, Tony sudah merasa tertarik dengan wanita cantik itu. Namun apa mau dikata, wanita cantik itu sudah menjadi kekasih dari Alex Montreal, bosnya sendiri.
Walau pun demikian tak menyurutkan niat Tony untuk bisa memiliki nona Liza Martinez itu. Terlebih pertemuan kemarin akan selalu di kenang dan di ingat oleh Tony, karena baru kemarin itulah dia benar-benar bisa dekat dan berbincang langsung dengan wanita yang menjadi pujaan hatinya.
Dengan bernyanyi dan bersuil-siul kecil, Tony berjalan turun dari kamarnya.
"Selamat pagi pak!" sapa asisten rumah tangga itu saat berpapasan dengan Tony.
"Oh, selamat pagi!" balas Tony sambil menghentikan langkahnya.
"Eh, apakah kau sudah sarapan?" tanya Tony.
"Sebentar lagi pak, saya bereskan pekerjaan saya dulu," jawab asisten rumah tangga Tony sambil terus mengepel lantai.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu itu, lalu pergilah ke dapur untuk membuat sarapan sendiri," ujar Tony.
"Baik pak, tapi apakah bapak membutuhkan sesuatu untuk di minum atau di makan pagi ini?" tanya asisten rumah tangga itu lagi.
"Tidak usah, aku akan bikin sendiri saja," balas Tony sambil berlalu pergi.
Tony langsung berjalan menuju dapur bersih di rumahnya, ternyata di sana ada beberapa orang asisten rumah tangganya yang lain sedang asyik menikmati sarapan mereka masing-masing.
Mereka tampak terkejut dan panik ketika melihat Tony tiba-tiba saja datang.
"Kalian duduk saja dan selesaikan sarapan kalian!" ujar Tony ketika melihat para asisten rumah tangganya itu ingin membubarkan diri.
Tony sibuk mencari gula dan kopi yang berada di dalam lemari dapur.
"Apa ada yang bisa saya bantu pak?" tanya salah seorang asisten rumah tangganya.
"Tidak, tidak usah, aku bisa sendiri," balas Tony sambil tersenyum dan menyeduh kopi yang dia bikin sendiri.
Tony mengambil beberapa buah roti dan kemudian dia pergi dan duduk di luar dekat kolam renang di samping rumahnya.
Rumah itu berdiri di atas sebuah pulau buatan jadi sejauh mata memandang hanya akan tampak laut dan kapal-kapal besar yang sedang menunggu giliran untuk bersandar di pelabuhan.
Di halaman belakang yang cukup luas, dulunya Franco gemar memelihara berbagai jenis macam hewan. Saat Tony mengambil alih rumah itu, dia tetap mempertahankan dan tetap memelihara hewan-hewan yang sudah ada di sana. Tony paling suka dengan ketiga Harimau yang menjadi peliharaannya. Dia berjalan-jalan ke halaman belakang yang sudah mirip dengan kebun binatang mini itu. Dia membuka pintu kandang Harimau itu dengan membawa beberapa potong daging segar sebagai makanan. Ketiga hewan buas itu tampak jinak dan patuh dengan Tony. Tony memang sering mengunjungi Harimau-Harimau itu untuk bermain atau hanya sekedar datang memberi makan saja. Begitulah kegiatan si pecundang yang sudah menjadi bos mafia itu di pagi hari.
*****
Pukul delapan malam Tony dan Diego sampai di Montreal Tower. Mereka di tuntun tidak menuju ke kantor Alex Montreal melainkan ke lantai paling atas oleh salah seorang anak buah Alex Montreal. Di atas puncak Montreal Tower ternyata ada sebuah rumah yang cukup mewah lengkap dengan landasan helikopter di sana.