Kent baru saja memarkir motornya, pemuda berambut gondrong itu langsung berjalan menuju sebuah ruangan. Dia saat itu berada di kantor polisi, pemuda itu menanyakan bagaimana perkembangan soal Don yang dia laporkan hilang beberapa hari yang lalu.
Kent menemui seorang polisi berpangkat perwira pertama, bernama Jacob. Jacob seorang polisi muda yang cepat naik pangkat karena berbagai macam prestasi yang diraihnya. Dia anak buah langsung dari Tedy yang merupakan seorang Jendral dan merupakan seorang perwira tinggi di kepolisian.
"Bagaimana perkembangan tentang Don yang hilang itu pak Insperktur?" tanya Kent.
"Kami masih menyelidiki masalah itu, sampai saat ini belum ada titik terang dan informasi lebih lanjut yang dapat kami sampaikan," jawab Inspektur Jacob.
"Tapi ini adalah hari ketiga setelah saya membuat dan mengadukan oranga hilang, jika dibalik lagi ke belakang, seharusnya ini adalah hari ketujuh sejak saya tidak melihat Don baik di kantor maupun di rumahnya," ujar Kent sambil mencoba berpikir dan memikir-mikir kemana Don pergi.
"Karena tidak ada jejak yang dia tinggalkan, itu membuat kami sedikit kesulitan, bahkan ponsel yang biasa dia pakai juga kami temukan di rumahnya," balas Jacob.
"Apakah anda sudah memeriksa catatan panggilan masuk dan panggilan keluar dari ponsel tersebut?" kembali Kent bertanya.
"Sedang dibawa dan di periksa oleh tim cyber kami, mudah-mudahan ada titik terang dari ponsel tersebut," pungakas Jacob.
Mereka berbincang cukup lama dan berbagai macam masalah yang mereka bicarakan siang itu.
*****
Seperti biasanya setiap tiga hari sekali Tony datang menemui ibu dan adik perempuannya, Eva.
Diego tetap setia mengawal dan menemani kemana pun Tony pergi.
Eva, gadis hitam manis itu tersenyum senang dan langsung memeluk sang kakak saat dia membukakan pintu dan melihat siapa yang datang berkunjung.
"Ibu ... ibu ..., lihat siapa yang datang!" seru gadis itu dengan girang.
Dia menarik tangan Tony dan mengajak Tony untuk segera menemui sang ibuĀ
Saat sudah berhadapan dengan sang ibu yang saat itu duduk di sebuah kursi roda, raut wajah Tony sontak berubah.
Tony melihat sang ibu menatap tajam ke arahnya dengan raut wajah yang tampak seperti orang yang sedang marah besar.
"Ibu, ada apa? Apakah ibu baik-baik saja?" tanya Tony dengan suara lembut.
Orang tua itu tidak menjawab dan tidak bergeming sedikit pun, tatapan matanya semakin tajam membuat Tony tak berani kontak mata dengan orang tua itu. Walau pun dia seorang pimpinan mafia, namun dia tetap menundukkan wajah dan pandangannya.
Keheningan ruangan itu pecah saat sang ibu berteriak kepada Tony.
"Cepat berlutut ...!" teriak sang ibu.