Dua orang anak buah Alex Montreal terkapar tidak lagi bernyawa di dalam rumah itu. Satu orang kepalanya bolong di tembus peluru yang di tembakan oleh Tony dari dekat. Sedangkan satu orang lagi mati dengan kondisi leher hampir putus akibat sabetan golok dari Diego.
"Apa yang telah kau lakukan?" tanya Diego tak habis pikir.
Suasana di dalam rumah Kent menjadi hening untuk beberapa saat. Sesaat setelah Tony menembakan pistolnya, kedua adik perempuan dari Kent keluar namun di suruh untuk diam dan jangan menjerit. Tony kemudian menyuruh kedua adik Kent tadi untuk masuk ke kamar dan menenangkan ibu mereka yang tadi juga sangat terkejut oleh suara tembakan dari Tony.
"Kau! Berdirilah!" perintah Tony kepada Kent.
Merasa tidak menadapat jawaban dari pertanyaan tadi, Diego menghampiri Tony dan dia kembali bertanya,
"Apa yang telah kau lakukan? Apakah kau sadar apa dampak dari semua yang telah kau perbuat ini bos?"
"Aku tidak tahu apa yang telah aku lakukan, namun ketika aku melihat ibunya, aku teringat akan ibuku. Saat melihat dia, aku melihat diriku yang dulu. Kemudian datang kedua adiknya, aku teringat akan adik perempuan ku juga!" jawab Tony sambil duduk dan menatap dengan tatapan kosong.
"Aku juga menyadari resiko yang akan aku hadapi karena telah membunuh anak buah Alex Montreal." sambung Tony lagi.
"Sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan menghubungi Romeo dan Manny untuk meminta bantuan dari mereka?" tanya Diego lagi.
"Ini masalahku, aku akan hadapi Alex Montreal sendiri. Aku tak ingin melibatkan dan membahayakan mereka. Karena walau pun kami bersatu, belum tentu akan sanggup menghadapi Alex Montreal itu. Jadi, lebih baik aku akan hadapi itu sendiri, dan kau Diego, pergilah! Jangan libatkan dirimu karena perbuatanku," kata Tony panjang lebar.
Diego berdiri terdiam dan terpaku setelah mendengar apa yang di katakan oleh Tony tadi.
"Kau adalah bosku! Kita akan hadapi ini bersama, kalau pun harus mati, aku akan senang mati sebagai anak buahmu!" balas Diego dengan penuh keyakinan.
"Terima kasih!" sahut Tony singkat.
"Dan kau! Duduklah di sini!" perintah Tony kepada Kent.
Pemuda itu lantas menuruti perintah Tony dan segera duduk di kursi yang berada di hadapan Tony. Dari wajah dan hidungnya masih mengalir darah akibat di hajar habis-habisan oleh Tony tadi.
"Simpan file asli foto itu baik-baik, jangan sampai jatuh ke tangan Alex Montreal dan kawan-kawan," ujar Tony mengingatkan.