Di Montreal Tower...
Semua orang yang dipanggil dan dikumpulkan oleh Alex Montreal mulai berdatangan. Tedy, sang perwira polisi datang terlebih dahulu tapi dia tidak mengenakan seragam sebagaimana biasanya. Disusul berturut-turut dengan kedatangan Omar, Paris, serta Vidal Gomez. Yang tidak hadir dan beralasan sedang berada di luar kota mengadakan kunjungan siapa lagi kalau bukan Fayed, sang Gubernur.
"Kita tidak bisa memulai semua ini dengan perang terbuka terhadap Tony karena masih ada Romeo di belakang si pecundang itu," ujar Alex Montreal membuka pembicaraan.
"Untuk saat ini aku harus menghindari konfrontasi langsung dengan Romeo karena dia masih memiliki pengaruh yang kuat di El Diablo." sambung Alex Montreal.
Suasana menjadi hening bahkan Alex Montreal merasa ucapannya sedari tadi cuma dianggap angin lalu karena kawan-kawannya masih sibuk dengan makanan mereka masing-masing dan itu cukup membuat Alex Montreal merasa sedikit kesal.
"Kalian diundang ke sini bukan untuk makan-makan! Tapi membantu ku untuk memikirkan cara menghadapi si Tony itu!" seru Alex Montreal sambil menggebrak meja makan itu.
Braaakk!
Mereka semua berhenti makan saat meja itu di gebrak.
"Tenanglah Alex! Tidak usah kesal dan biarkan kami menghabiskan makanan ini terlebih dahulu," ujar Vidal Gomez dengan santainya.
Jawaban yang sungguh tidak dapat diterima dan membuat Alex Montreal merasa semakin kesal.
"Kalau semua foto-foto itu tersebar, kau tidak akan bisa bicara sesantai itu lagi, mengerti kau!" bentak Alex Montreal.
"Dan kalian semua harus tahu, selama file asli dan keparat yang bernama Kent itu belum ditemukan, kita tidak bisa bersantai dan duduk dengan tenang seperti ini," sambung Alex Montreal dengan sedikit cemas.
"Kau terlalu cemas sobat dan seharusnya kau tidak usah mencemaskan hal itu. Jika pun foto-foto itu tersebar, itu bukan suatu masalah besar! Pemerintahan, hukum, parlemen, semua kita kuasai. Dan sebuah partai besar di dalam pemerintahan akan selalu berada di belakang kita," ujar Paris sambil berusaha menenangkan kecemasan Alex Montreal.
Alex Montreal tertawa mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Paris tadi.
"Hahaha, hari gini kau masih percaya dengan para anggota parlemen dan politikus-politikus sialan itu? Mereka itu licik seperti ular. Tidak ada yang namanya persahabatan abadi bagi mereka yang abadi itu hanyalah kepentingan-kepentingan yang bisa menguntungkan bagi mereka saja. Dan kau berharap kepada partai besar yang kita sokong dengan uang dari Narkoba untuk membiayai segala kegiatan mereka. Jangan berharap lebih kepada mereka. Mereka lebih mementingkan nama partai mereka dan bisa saja mereka lepas tangan dan bahkan menggunakan kekuatan militer untuk memusnahkan kita semua," ujar Alex Montreal panjang lebar.
Apa yang dikatakan oleh Alex Montreal itu memang masuk akal dan bisa diterima oleh Paris. Akhirnya Paris paham akan kecemasan yang di rasakan oleh sobatnya itu.
"Lantas apa rencana yang sedang kau pikirkan?" tanya Omar.