Ketiga orang itu lantas di bawa oleh Tedy menuju Montreal Tower untuk bertemu dengan Alex Montreal.
"Jadi ini orang-orang yang akan kau suruh untuk melenyapkan si Pecundang itu?" tanya Alex Montreal.
"Benar Bos, mereka adalah "sahabat lama" Tony," jawab Tedy.
Alex Montreal kembali memperhatikan ketiga orang itu satu per satu.
"Sahabat lama Tony?" desis Alex Montreal.
"Benar Bos!" sahut Tedy dengan mantap.
"Dengarkan aku! Kalian bertiga aku tugaskan untuk membunuh manusia keparat yang bernama Tony itu, tapi ingat! Jangan libatkan aku dan jangan sampai ada yang tahu bahwa kalian bekerja di bawah perintahku!" Alex Montreal menekankan ucapannya kepada ketiga orang itu.
"Kami bisa atur semuanya itu Bos, tapi apa yang kami dapatkan dari itu semua nantinya?" tanya Ray.
"Kalian jangan meragukan aku soal itu, aku sudah menyiapkan hadiah dan uang yang banyak jika kalian berhasil menyelesaikan pekerjaan yang aku berikan kepada kalian," jawab Alex Montreal.
"Ini sebagai uang mukanya saja dulu." kata Alex Montreal sambil melemparkan beberapa gepok uang ke atas meja.
Ray tampak tersenyum lebar, dia mengambil uang itu dan mencium bau uang-uang tersebut.
"Aku mencium bau-bau kekayaan, hahaha," kata Ray sambil tertawa lebar.
"Kalian akan dapat lebih banyak dari itu nantinya," ujar Alex Montreal mengiming-imingi ketiga orang tersebut.
"Kalau begitu, kita harus cepat-cepat bergerak dan mengerjakan tugas yang di berikan oleh Bos besar," celetuk Sosa.
"Iya, lebih cepat lebih baik!" sahut Alvarez.
"Baiklah Bos, kami pamit dulu untuk mempersiapkan semua yang diperlukan untuk mendukung pekerjaan yang akan kami lakukan," ucap Ray sambil pamit dan segera pergi dari Montreal Tower.
Ketiga orang itu lantas meninggalkan ruangan itu dan yang pasti saat itu yang mereka pikirkan adalah bersenang-senang terlebih dahulu, baru melakukan pekerjaan yang diberikan oleh Alex Montreal.
Terlebih saat itu mereka sedang memegang uang yang sangat banyak.
*****
Gedung itu cukup megah walau tidak semegah Montreal Tower. Kurang lebih 200 meter menjelang gedung itu, banyak di pasang bendera yang berjajar sepanjang jalan. Bendera berwarna merah dengan sebuah gambar yang melambangkan sebuah partai di tengahnya.
Siang itu Alex Montreal di panggil untuk menghadap ketua partai yang saat ini menjadi partai yang berkuasa yang menempatkan kader terbaik mereka duduk di kursi President.
Saat itu Alex Montreal datang tidak sendirian, dia di dampingi oleh Fayed, sang Gubernur.
Seseorang berbadan besar dan berkepala plontos, duduk di balik meja kerjanya. Di dalam ruangan itu ada beberapa orang anggota yang menemaninya, namun saat Alex Montreal dan Fayed datang, semua anggotanya yang berada di dalam ruangan itu di suruh keluar oleh orang yang berkepala plontos itu.