Hitam Putih Wanasaba

Wulansaf
Chapter #3

Tersesat di Ladang Kemaksiatan

Pagi ini setelah sarapan, aku dan Bilal akan pergi ke pasar untuk membeli barang belanjaan. Karena kami semua tidak tahu di mana letak pasar, maka aku menunggu Ustadz Hanif selesai kajian. Kami berempat bosan duduk-duduk di luar, beberapa kali mondar-mandir dan Ustadz Hanif baru keluar satu jam kemudian, ketika kami sudah memutuskan akan menunggu saja di rumah sambil rebahan.

  “Ada apa, Alam? Kalian menunggu Ustadz?” Kami semua menoleh dan aku cepat menghampiri Ustadz Hanif yang lebih dulu keluar dari aula.

  “Maaf Ustadz, kami mau pergi ke pasar tapi nggak tau jalan. Bisa Ustadz tunjukin jalannya ke mana?”

  “Oh, kalian mau ke pasar, ya? jalannya agak berlika-liku, tapi dari sini kalian lurus aja terus belok kiri, lewat pemukiman warga, nanti kalian minta antarlah sama warga untuk jalan ke pasar.” Kami berempat yang mendengar hanya mengangguk-angguk meski kurang puas dengan jawaban Ustadz Hanif yang tidak sepadan dengan waktu menunggu kami selama satu jam. Akhirnya kami berpamitan dan berjalan seperti arahan Ustadz Hanif.

  “Tau gitu kita jalan aja dari tadi, nggak usah nunggu Ustadz Hanif keluar.” Bilal menghela nafas, kali ini aku setuju dengannya, merasa waktu kami terbuang dengan percuma. Sedari tadi aku sama sekali tidak terpikirkan untuk jalan saja menemukan pasar, aku ingin bertanya pada siapapun yang mengerti ke mana arah jalan menuju pasar dibanding harus lontang-lantung tidak jelas mencari alamat pasar. Padahal keduanya sama-sama meghabiskan waktu.

Akhirnya kami berempat keluar dari pondok seperti arahan Ustadz Hanif. Dari pondok ini kami belok kiri lalu mengambil jalan lurus melewati rumah-rumah warga yang tidak terlalu padat, jaraknya lumayan berjauhan, berbeda dengan rumah-rumah yang ada di kota yang padat dengan rumah-rumah penduduk. Kami celingukan melewati jalan yang masih sepi, suara jangkrik terdengar dan ayam-ayam berkeliaran mencari makan.

  “Lah, tadi kata Ustadz Hanif belok kanan apa kiri?” Bian berhenti tepat di pertigaan, aku dan yang lainnya juga ikut berhenti.

  “Bukannya ke kanan? Apa ke kiri, ya?” aku balik bertanya, tiba-tiba lupa dengan instruksi yang tadi baru saja kudengar.

  “Ke kanan tadi katanya.” Fajar sudah jalan duluan ke arah kanan, tapi aku bilang sepertinya ke arah kiri.

  “Kayaknya ke arah kanan deh bener.” Bian meyakinkan dan kami belok ke arah kanan. Hal sepele seperti ini lah yang menyebabkan semuanya, yang merubah semuanya, yang membangkitkan kemarahan kami dan memaksa kami untuk mengetahui semuanya tentang Wanasaba. Kupikir, andai hari itu aku dan teman-teman memutuskan berjalan ke arah kiri, pasti yang terjadi akan berbeda. Namun kami meyakini, bahwa sesuatu yang terjadi pasti akan terjadi. Mungkin Tuhan memang sengaja melemahkan pendengaran kami dan membuat kami lupa tentang arahan Ustadz Hanif sehingga semua hal yang tidak diinginkan terjadi secara bertubi-tubi.

Lihat selengkapnya